Lalu, bagaimana arti bahagia yang sebenarnya? Seperti apa konsep bahagia yang tepat?
Syekh Mustahafa Ghalayain, dalam kitabnya Idhotun Nasyi’in, telah menarasikan arti bahagia itu sendiri. Lebih tepatnya bisa dilihat pada halaman 120. Di dalamnya, Syekh Musthafa memberikan argumen tentang arti bahagia yang sebenarnya. Sekaligus menyajikan tentang bagaimana kebahagiaan hakiki bisa diraih.

I’tidal; Jalan Menuju Kebahagiaan
Syekh Musthafa sendiri memang mengakui bahwa kebahagiaan itu sama halnya dengan kecantikan. Keduanya sama-sama bersifat nisbi (relatif). Tergantung siapa yang memandang dan dari sudut pandang bagaimana yang digunakan. Dengan bahasa yang berbeda, beliau menyebut bahwa kecantikan atau kebahagiaan didasarkan pada perasaan dan kecenderungan orang yang melihatnya.
Ada salah satu petikan kalimat dalam kitab tersebut yang bagi saya mewakili definisi bahagia itu sendiri. Yakni, “Bahagia bukan merupakan hal yang baik yang disepakati semua orang. Namun, bahagia adalah hal yang baik menurut seseorang yang memandangnya baik.”
Maknanya, bahagia itu adalah suatu kebaikan. Namun bukan kebaikan yang sifatnya mujma’ alaihi (disepakati semua orang). Kebaikan yang dimaksud bisa jadi dipandang baik oleh kalangan tertentu, tapi tidak bagi kalangan yang lain.
Saya beri contoh sederhana, misal, bagi Aqil, bahagia itu adalah ketika bisa menjadi ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampus. Namun, tidak bagi Husein. Sebab, bagi dia, menjadi ketua atau pimpinan mahasiswa adalah hal yang penuh tanggung jawab dan sangat melelahkan.
