“Ha?”
“Ya kan airnya menguap.”

Kami pun akhirnya tertawa bersama. Sialnya, tak banyak orang yang tahu kalau kami sebagai satpam juga busa bercanda. Kebanyakan para santri menilai kami sebagai penjaga gerbang yang garang dan tidak berperasaan. Padahal tugas seorang satpam hanyalah mematuhi komando dari atasan saja. Hanya sebatas itu. Tapi, kami kadang malah dituduh yang tidak-tidak. Begitulah nasib menjadi satpam.
Suatu ketika, pernah dua orang santri hendak keluar kompleks pesantren dengan alasan ingin membeli nasi.
“Loh, kok gak beli di kantin pesantren aja, dek?” tanyaku.
“Nasinya habis, bang. Banyak yang gak kebagian juga,” jawab salah seorang.
“Oh, kalau banyak yang gak kebagian koordinasikan ke satu orang saja, dek. Biar sekalian nitip dan gak keluar semua,” ujarku kemudian memberi saran pada mereka berdua.
“Bang Sat, Bang Sat. Gak tahu rasanya jadi santri, sih. Bisanya cuma ngelarang mulu,” ucap salah seorang lainnya dengan nada sinis.
Jelas hatiku serasa disayat mendengar perkataannya. Padahal aku memberi saran yang solutif pada mereka, namun malah dianggap melarang. Seharusnya mereka juga tahu kalau keluar area pesantren sangat tidak diperbolehkan, apalagi sampai berbelanja. Aku sudah menolerir keinginan mereka karena kebutuhan mendesak, tapi seperti ini sikap mereka padaku.
“Ya sudah kalau begitu gitu, dek. Jangan lama-lama keluarnya. Cukup beli nasi saja,” ujarku akhirnya pada mereka.
Sebenarnya tindakan semacam ini melanggar kode etik satpam. Tapi aku sudah muak menghadapi debat dengan santri-santri keras kepala seperti itu. Tapi aku yakin tidak semua santri memiliki sikap songong begitu. Mereka yang selalu menggunjingku pasti hanyalah oknum saja.
Beberapa menit kemudian ada sebuah laporan bahwa dua santri tertangkap basah membeli ‘barang haram’ di sebuah warung. Siapa sangka dua santri itu adalah mereka yang sebelumnya kuizinkan keluar untuk keperluan beli nasi.
Berkenaan dengan kejadian itu, aku dimarahi habis-habisan oleh atasan karena dianggap memberi kesempatan melanggar kepada santri.
“Jaga gerbang saja tak becus! Mau merusak santri-santri yang sudah dididik? Ha?” bentak pengurus pesantren padaku beberapa waktu setelah kejadian.
