Huh, sungguh sangat mengesalkan jika terjadi kejadian semacam ini. Aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali mengucapkan “Maaf ustaz. Saya lalai.” Mustahil bisa membela diri jika sudah pengurus pesantren yang turun tangan. Sekali salah, tidak bisa ada pembenaran. Untungnya aku masih diberi kesempatan sekali lagi untuk bisa menafkahi keluarga lewat menjaga gerbang. Benar, aku tidak dipecat. Hanya diberi surat peringatan saja.
Memang kuakui bahwa aku salah. Seandainya aku tak mengizinkan dua santri itu keluar, mungkin kejadian ini tidak akan mengusikku. Namun jujur, mendapat perlakuan sinis dari santri juga tidak nyaman. Posisi menjadi satpam adalah posisi yang dilema. Padahal, aku hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anakku.

Aku pernah ditawari sebuah pekerjaan oleh seorang kenalanku: mengirim barang keluar kota. Ya, hanya sebatas mengirim barang. Awalnya kukira pekerjaan ini akan lebih cocok bagiku ketimbang menjaga gerbang pesantren. Namun, setelah temanku menjelaskan prosedur kerjanya, kurasa baiknya aku tetap mempertahankan posisiku sebagai satpam. Bagaimana tidak? Pekerjaan mengirim barang keluar kota rupanya mengharuskan untuk meninggalkan keluarga berhari-hari. Sementara aku tidak bisa meninggalkan dua buah hati kecilku yang selalu menunggu kepulanganku di depan pintu menjelang magrib.
“Janganlah, Mas. Kasihan sama anak-anak masih pada kecil-kecil. Sudahlah. Syukuri kerjaan yang ada. Lagian, Adek juga tak masalah sama pekerjaan Mas,” ucap istriku beberapa saat sebelum tidur, ketika aku mengutarakan tawaran kerja oleh temanku.
Ah, mendengar pendapatnya, aku juga tak tega meninggalkan istriku sendirian mengurusi anak-anak di rumah. Akhirnya aku menolak tawaran kerja itu dan tetap menjalankan rutinitasku sebagai satpam penjaga gerbang. Ya, hitung-hitung juga mencari barokah dari para santri yang mengaji tentang agama. Siapa tahu suatu saat anak-anakku tumbuh menjadi orang yang saleh.
Keesokan harinya, seperti biasa aku berangkat ke pesantren tempatku bekerja. Di sana, kulihat Pak Gembul tengah bersiap-siap bergantian shift jaga denganku. Wajahnya terlihat kusut, pertanda bahwa semalam ia benar-benar tidak tidur.
“Sudah mau pulang saja, Pak? Tak sarapan bareng dulu? Ini saya bawa bekal banyak,” sapaku berbasa-basi pada Pak Gembul.
“Aduh, sudah, An. Aku ngantuk sekali ini,” jawab Pak Gembul sambil menguap. “Aku tinggal, ya,” ucapnya kemudian sembari mengendarai motor bebeknya yang nampak mungil saat dinaiki tubuh besar Pak Gembul.
Beberapa saat setelah Pak Gembul pergi, terlihat dua orang mengendarai motor menuju ke arah pesantren. Mereka berboncengan dan sama-sama mengenakan helm. Mungkin kerabat santri yang hendak menitipkan barang, pikirku. Aku bergegas mendekat ke gerbang guna membukakan jalan untuk mereka.
Sebelum sempat bertanya tentang keperluan kunjungan dua orang itu, salah seorang membuka helmnya. Aku terkejut melihat wajah orang itu. Dia adalah santri yang beberapa waktu lalu tertangkap basah membeli ‘barang haram’ di warung luar pesantren. Oh, apa jangan-jangan dia diusir dari pesantren? Sial, kalau begitu, apa dia ingin balas dendam karena waktu itu dia pikir akulah yang melaporkannya bahwa dia keluar kompleks pesantren?
“Maaf, Bang Sat. kalau saja waktu itu aku menuruti saranmu, mungkin aku tidak akan diusir,” ujarnya tiba-tiba dengan nada suara parau.
Hah, kasihan sekali dia. Ternyata santri itu hanya ingin mengambil barang-barangnya yang tertinggal. Aku pun mempersilakannya masuk dan segera kembali ke pos jaga.
Aw! Ada sesuatu yang menancap di kepalaku! Oh, Tuhan! Kenapa perih sekali?! Apa ini? Darah?
Ilustrasi: pixabay.
