Bapak

Aku pulang dari lapangan saat hari menjelang sore. Dari kejauhan aku melihat Bu Sasmi di depan rumahku sedang menggedor-gedor pintu rumah kami dengan keras. Dahiku berkerut. Aku putuskan menyaksikan hal itu dari kejauhan ketika Bapak keluar dari rumah. Tampak raut muka Bu Sasmi tak enak dan merah padam. Bapak menyodorkan beberapa lembar uang kepada Bu Sasmi. Aku sedikit mendengar percakapan mereka. Ternyata untuk membeli sepeda baruku Bapak harus berhutang kepada wanita gempal itu. Tak terasa butiran bening keluar dari sudut mataku.

“Maafkan aku, Bapak,” sesalku lirih.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

***
Bagiku Bapak adalah seorang pahlawan dalam hidupku. Beliau berperan sebagai Bapak plus Ibu dalam hidupku. Bapak pun yang mengajarkanku hidup syukur walau dalam kesulitan. Tak ada yang bisa kupersembahkan untuknya kecuali sebaris doa yang terpanjat setiap malam.

Kini hanya pusara Bapak yang bisa kupandang. Kejadian itu masih melekat di memoriku. Sungguh tiba-tiba. Ambulans memasuki halaman rumah kami. Aku melihat dengan mata kepala sendiri jasad Bapak yang masih berlumuran darah. Beliau kecelakaan di jalan raya saat menyeberang. Nyawanya tak bisa tertolong.

Saat itu aku yang masih kecil tak kuat melihat semuanya. Tangisku pecah. Masa bodo dengan sebutan orang-orang yang berbicara bahwa seorang lelaki tak boleh menangis. Bapak sebagai tumpuan hidupku kini telah tiada. Begitu sedihnya sampai-sampai aku tak sadarkan diri, hingga pemakanan selesai baru aku tersadar. Sedikit demi sedikit aku pun bangkit dan menerima semua takdir yang telah digariskan Allah.

***

“Mau ke mana dokter Syukri?” tanya sahabat kecilku, Anwar saat melihatku menutup klinik tempat kupraktik.

“Ini mau ziarah ke makam Bapak bersama Ibu,” jawabku setelah menoleh ke asal suara.

“Oke. Kalau begitu aku pamit dulu, ya. Assalamualaikum,” pamitnya.

“Waalaikumussalam.”

Tak lama kemudian suara motor Anwar pun mulai berbunyi dan menjauhiku. Rumah peninggalan dahulu, kini kusulap menjadi sebuah klinik setelah gelar dokter umum kudapatkan. Aku dan Ibu pun tinggal di sana. Warga sekitar bisa dengan bebas berobat dengan biaya yang bisa terjangkau oleh mereka. Berhubung sekarang sedang tak ada pasien, aku memutuskan untuk menutup sebentar untuk berziarah ke makam Bapak. Bersama Ibu dengan kursi rodanya aku berjalan menuju area pemakaman. Jaraknya tidak jauh dengan tempat kami tinggal. Hanya perlu lima menit dalam berjalan kaki.

“Ya Allah. Tempatkanlah Bapak di tempat yang terbaik. Ampuni segala doa dan terimalah semua amal baiknya. Aamiin.” Aku berdoa pelan ketika tiba di makam Bapak.

2 Replies to “Bapak”

Tinggalkan Balasan