Bapak

“Tetapi hak waris tetap diberikan kepada putra dari Gus Ali. Soalnya Gus Ali pewaris yang sah. Sudahlah jangan bicara tentang hal itu. Kita tidak berhak memikirkan hal itu,” tukas ayah.

Selama aku belajar di madrasah tsanawiyah, aku sudah dibiasakan hidup di pesantren oleh bapak. Pesantren pertama yang aku jajaki adalah pesantren yang diasuh oleh Gus Ali. Setelah lulus dari madrasah tsanawiyah, aku pindah ke pesantren lain, tentunya dengan rekomendasi dari Gus Ali.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kata Gus Ali beberapa hari yang lalu, “Besok kalau kamu sudah lulus dari pesantren, kamu boleh bantu mengajar di sini.” Hal itu juga disaksikan oleh Bapak.

Hubungan Gus Ali dengan bapak memang akrab. Mereka berdua pernah belajar satu pesantren di Kediri. Meskipun bapak hanya sebentar di pesantren, karena kakek sudah tua dan tak mampu bekerja lagi. Kemudian bapak pulang, untuk membantu nenek menjadi tulang punggung keluarga. Sedangkan Gus Ali bisa belajar sampai lulus di pesantren. Tapi bapak tidak berkecil hati. Ia berharap, aku bisa belajar lebih tinggi dari pada dirinya.

Ia pernah mengatakan padaku, “Kamu jangan seperti bapak. Bapak ini orang bodoh.” Kalau aku pikir-pikir apa yang salah dari bapak sehingga ia mengatakan seperti itu?

***

Tak lama berselang, kami sudah sampai ke gerbang pesantren. Bapak hanya mengantarkan aku ke depan gerbang. Sepertinya, ia sedang buru-buru, karena ia akan takziah.

Kata yang tak luput dari ucapannya adalah “belajar yang rajin, patuh pada kiai dan guru”.

“Bapak pulang dulu ya,” pamitnya. Aku mencium tangannya, lalu bergegas menuju asrama. Aku langsung mandi dan beristirahat. Sebelum mengikuti kegiatan pesantren aku mencoba untuk tidur sejenak setelah menempuh berjalan dari rumah ke pesantren.

***

Setelah bangun tidur, aku segera dipanggil ke kantor asrama, pamanku menelepon memakai nomor ibu. Aku mengangkatnya.

“Segera pulang ya Nak, bapakmu meninggal, karena kecelakaan tadi,” ucapnya sambil terisak.

Jantungku terasa sesak. Mataku memanas, tubuhku lemas seketika. Tanpa sadar, aku menjatuhkan telepon itu ke lantai.