Batu Tapal Kuda

“Apa ibu tak salah dengar? Apa kamu tidak takut terkena kutukan leluhur!” Mariya berkata dengan sedikit menekan suaranya. Lampu teplok yang terbuat dari kaleng tersandar miring di atas dinding. Bayangan anaknya turut bergerak-gerak mengikuti ke mana arah angin menerpa api di atas sumbu.

“Tidak, Bu. Itu hanya mitos. Soal kutukan itu masih simpang siur kebenarannya,” kata Nurdin usai menambah minyak tanah ke dalam kaleng.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ketegasan anaknya membuat perempuan itu merasa gamang. Ia sungguh tak menyangka akan tumbuh keinginan semacam itu dalam hati Nurdin. Sambil terus menganyam daun siwalan, Mariya berusaha menyingkirkan kengerian yang perlahan mengendap dalam kepalanya. Memang semua nasib manusia telah ditakdirkan oleh Tuhan, tapi bukan tak mungkin mara bahaya datang lewat perantara batu keramat itu.

“Saya tidak meniatkan diri membongkar batu itu, tapi saya hanya berniat untuk mencari nafkah.” Sekejap tangannya meraih jemari ibunya, seolah memberi kepastian bahwa semua akan baik-baik saja.

“Jadi kamu menerima tawaran orang berdasi itu?” tanya sang ibu penasaran.

“Saya terpaksa, Bu.”

Deg! Dada Mariya seperti tertimpa benda keras. Apa yang ditakutkan selama ini tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Tentang seonggok bukit di belakang rumahnya yang menyimpan banyak misteri.

Mariya menghela napas. Sepotong ingatan kembali muncul di kepalanya ketika beberapa alat berat yang tiba-tiba mogok sewaktu mau digunakan untuk membongkar batu. Konon, batu yang dikeramatkan itu tidak begitu dalam. Ada yang menaksir sekitar kedalaman sepuluh kaki orang dewasa. Namun, sampai saat ini masih belum ada satu pun orang yang berhasil meski menggunakan buldoser sekalipun. Tetap saja batu itu kokoh, seolah terpasung paku bumi.

Bulan terlelap di balik arak-arakan awan. Di halaman kunang-kunang berkelebat membelah temaram sinar rembulan. Mariya berharap Nurdin tidak benar-benar membongkar batu itu. Ada banyak alasan mengapa ia melarangnya, salah satunya karena batu itu dikeramatkan dan dipercaya sebagai peninggalan orang sakti terdahulu.

***

Masih sepi ketika Nurdin meninggalkan rumahnya. Sebuah cangkul ia letakkan di pundak, sedang tangannnya menenteng satu termos air dan sesisir pisang. Nurdin sengaja tak minta dibuatkan bekal pada sang ibu karena ia berangkat tanpa sepengetahuannya. Yang penting, kali ini ia harus berhasil menghancurkan batu itu agar bisa membeli sekarung beras biar tidak melulu makan singkong rebus setiap hari.

Di lereng bukit itu Nurdin tidak hanya seorang diri. Ia bersama dua kawannya yang sama-sama menyepakati kontrak membongkar batu tapal kuda dengan seorang mandor beberapa waku lalu. Langkah mereka seperti mengejar hewan buruan, berusaha mencengkeram jalan terjal menuju atas bukit. Ada banyak harapan yang kerap kali tumbuh setiap kaki mereka menjejaki jalan setapak. Mereka saling berbagi kesah menjalani hidup di tengah kemiskinan. Seperti kata Misnan misalnya, uang hasil membongkar batu nanti akan dibuat membeli rumah dan sepasang sapi sebagai mahar untuk melamar Syarifa. Berbeda dengan Nisma, upah hasil membongkar batu akan dibuat untuk mewujudkan mimpi ibunya agar sampai ke tanah suci. Di antara harapan-harapan itu, tentu mereka berharap cerita batu tapal kuda yang memakan korban tidak benar-benar terjadi. Mereka berharap cerita itu hanya kisah pengantar tidur waktu kecil dulu.

Di atas bukit, dekat pohon jati yang dikelilingi hamparan perdu terdapat lempengan batu besar. Tepat di tengahnya terdapat jejak sepasang kaki kuda. Tak begitu jelas, namun tak mengurangi kepercayaan masyarakat bahwa jejak itu merupakan tempat pemandian kuda Ki Emmar, salah satu pendekar sakti mandraguna. Dalam satu cerita disebutkan bahwa kudanya sangat setia menemani ke mana pun Ki Emmar pergi. Bahkan ketika sang tuan dikubur setelah tewas dalam peperangan, si kuda tetap berdiri di atas batu itu seolah menanti kedatagannya.

Matahari bersinar dengan terangnya. Peluh mereka bercucuran, menetes di lengan yang terlihat belang. Pekerjaan mereka terhambat akar-akar pohon yang menjalar di sekeliling batu. Saking susahnya parang yang digunakan tak bisa diayunkan untuk membersihkan akar-akar itu. Seakan ada kekuatan gaib yang berusaha menangkis setiap parang menyentuh permukaan akar yang nampak seperti jaring.

“Kita istirahat dulu,” ajak Nurdin sambil menyodorkan mangga yang ia petik di lereng bukit tadi.

“Aneh, ya. Seharian kita bekerja hanya bisa menggali sedalam ini,” ujar Misnan sambil mengipas-ngipaskan bajunya.

Memang aneh, tanah di sekitar batu terlihat seperti mengeras setiap cangkul diayunkan. Tak seperti ketika Nurdin menggali sumur, biasanya dalam sehari ia bisa menggali sampai kedalaman lima atau enam meter. Sedangkan di batu ini yang dikerjakan tiga orang tanpa henti hanya bisa menggali sedalam pinggang orang dewasa.

Tinggalkan Balasan