Batu Tapal Kuda

Mariya menyerah dengan sikap keras kepala Nurdin. Duduk termenung dekat lampu teplok yang hampir tak mau menyala, Mariya berucap istighfar berkali-kali. Ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya.

Tujuh hari setelah kematian sahabatnya, Nurdin dan Nisma kembali ke atas bukit. Alangkah terkejutnya mereka, lubang yang digali seminggu lalu rata dengan tanah. Nampak tak ada bekas galian, seolah tak terjadi aktivitas menambang batu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tak mau patah semangat, mereka kembali kerja keras menghancurkan batu tapal kuda itu. Kali ini mereka tak lagi menggali lubang, tapi langsung memukul batu itu secara bergantian hingga terlihat percikan api dari saking kerasnya palu dibenturkan ke permukaan batu. Benar saja, usaha mereka tak sia-sia. Lambat laun permukaan batu itu hancur kecil-kecil serupa kerikil.

“Jangan bermalam di sini lagi. Aku tak mau terjadi apa-apa pada kita,” ujar Nisma sambil memukul batu. Nurdin hanya membalas dengan anggukan kepala.

***

Besoknya warga kampung dikejutkan dengan teriakan seorang perempuan. Pagi yang sepi mendadak pecah dengan derap langkah kaki menuju arah datanganya suara itu.

“Nisma tewas,” ucap salah seorang pada warga.

“Tewas bagaimana?” tanya warga yang lain penasaran.

“Sangat mengenaskan. Dia tewas dengan mata mendelik, di dadanya juga ada bekas kaki kuda persis seperti Misnan waktu itu.”

Bulu kuduk mereka bergidik. Mereka tak pernah membayangkan hal semacam ini terjadi lagi di kampungnya. Baru kali ini warga digemparkan dengan temuan mayat yang sama-sama menyisakan jejak sepasang kaki kuda. Perlahan kecemasan berkelindan di dada para warga.

“Sepertinya batu itu akan memakan korban lagi. Kejadian ini persis seperti waktu kakek muda dulu.” Batuk mengguncang dada ringkihnya. Berpasang-pasang mata tertuju pada Ki Misdu, tetua kampung Toteker.

“Siapa pun yang mencoba membongkar batu tapal kuda akan berakhir mengenaskan,” jelasnya beberapa saat setelah berhasil mengatur laju napasnya.

Matanya menerawang ke sebuah peristiwa besar lima puluh tahun lalu ketika sejumlah warga ditemukan tewas secara misterius. Orang-orang itu mati ketika berusaha menghancurkan batu tapal kuda itu. Selain menyisakan jejak kaki kuda, tubuh mereka juga dipenuh memar dan tulang remuk.

“Batu itu dijaga oleh jelmaan kuda Ki Emmar, tak akan ada yang berhasil mengbongkarnya. Sekalipun mereka memaksa pasti akan berakhir dengan tragis.” Ki Misdu berpandangan dingin melihat bukit di balik kampung itu.

“Itu tidak benar. Saya tidak pernah melihat ada kuda di atas sana,” Nurdin membelah kerumunan. Orang-orang berpandangan sinis.

“Jadi kamu salah satu yang berusaha membongkar batu itu?”

Nurdin tergeragap. Tidak mungkin ia mengaku, bisa-bisa ia mendapat hukuman cambuk karena melanggar aturan adat.

Tinggalkan Balasan