“Aku sering diejek teman-temanku, karena bapakku seorang koruptor,” jawabku dengan wajah murung. Kang Ali terdiam. Kemudian, dia mulai menginterogasi diriku. Terungkap sudah tentang diriku yang sering kabur dari pondok, merokok, sering bolos sekolah, sering bolos mengikuti kegiatan pesantren.
“Aku ditakdirkan untuk menjadi orang tidak baik,” ucapku.

“Kenapa kau bicara seperti itu? Tidak, kau pasti menjadi orang baik. Percayalah,” ucap Kang Ali.
“Darahku sudah tercampur dengan uang haram. Bapakku seorang koruptor. Dia yang memberi makan dengan uang haram selama ini,” ucapku dengan terisak.
Dadaku terasa sesak. Kang Ali terdiam sesekali menunduk, menatapku penuh rasa kasihan. Mungkin dia bisa merasakan impitan yang bergejolak di dadaku. Mungkin dia paham dengan kondisiku yang tak beruntung, meskipun aku tak memaksa orang lain merasakan atau setidaknya memahami diriku.
Setelah bapak dinyatakan sebagai tersangka penggelapan dana desa, tidak hanya aku yang kena imbas dari aib itu. Pak lik, bu lik, nenek, sahabat baik bapak pasti kecewa, khususnya almarhum ibu. Tidak hanya kecewa, tapi keluarga ayah menjadi bahan gunjingan para tetangga. Dan aku menjadi bahan ejekan teman-temanku di pesantren.
Kang Ali memegang pundakku. Dia memberi tatapan yang meneduhkan, seolah-olah memberi sebuah air yang sejuk di batinku.
“Dalam hal ini, kau tidaklah bersalah. Berhentilah mengutuk diri sendiri. Bapakmu pasti sudah menyesali perbuatannya. Tidak ada alasan, jika kau tidak lebih baik,” ucap Kang Ali. Dia mengambil dua lembar tisu di gardu penjagaan, diserahkan kepadaku untuk mengusap bekas linangan air mata.
Lalu Kang Ali berlalu, berjalan tegap melawati deretan pohon mengkudu yang rindang. Aku mengejarnya, berlari-lari kecil membuntuti dia. Dia tak menengok ke belakang, terus saja melangkah. Selain dia seorang santri, dia adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu kanuragan dan kedigdayaan yang tinggi.
Kata orang di lingkup pesantren, Kang Ali orang yang betah berlama-lama bertirakat. Dia sering puasa ngebleng. Puasa yang tak makan tak minum seharian penuh, namun itu dilakukan karena ada amalan tertentu atau ada hajat tertentu. Selain itu, puasa yang biasa dilakukan adalah puasa dawud, yaitu sehari berpuasa, sehari tidak, dan seterusnya, atau puasa mengowot yang biasa dilakukan dengan tidak makan nasi, melainkan makan umbi-umbian.
Bahkan kata orang Kang Ali memiliki aji lembu sekilan yang tak bisa dikalahkan oleh lawan. Setiap lawan menyerang akan selalu meleset dengan jarak pukulan beberapa senti meter. Kang Ali sering diundang dalam pertunjukan pencak silat. Dia bisa menghancurkan tiga batu kumbung dengan satu pukulan. Dia juga memiliki ilmu kekebalan yang menjadikannya dia tidak bisa disayat oleh senjata tajam.
“Tunggu Kang,” panggilku. Dia berhenti, sambil menoleh kepadaku. Dia mengenakan peci hitam, berkemeja hitam, bersarung putih lusuh. Berwajah sangar dengan berewok lebat, bermata tajam, dia begitu berwibawa. Sorot matanya tajam dengan alis tebal, tinggi kekar.
Dia menungguku yang sedang berlari mengejarnya. Sesampainya di hadapannya, aku ragu untuk mengatakan apa yang sebenarnya yang menjadi keinginanku. Angin berdesir sejuk, awan hitam menggulung-gulung menggantung di langit. Dia tahu jika ada sesuatu yang mau dibicarakan.
“Bicaralah,” suruhnya. Dengan kondisi gugup aku mulai berbicara meski tergagap-gagap.
“Aku mau belajar silat dengan Kang Ali, apakah boleh?” tanyaku meminta.
Kang Ali menatap mataku dalam-dalam, lalu berucap, “Boleh saja, asal jangan disalahgunakan untuk menyakiti orang lain. Menindas yang lemah,” ucapnya. Untuk sejenak, aku terdiam dan agak ragu. Dadaku berdegup kencang.
“Belajar silat itu seni dan untuk menjaga diri, bukan untuk kesombongan atau balas dendam,” sambungnya.
