Be-songo dan Pendidikan Kesetaraan Gender

Dari tahun ke tahun perkembangannya melaju dengan cepat, baik dari jumlah santri, fisik bangunan, maupun kegiatan santri yang secara lambat laun semakin bertambah dan semakin padat. Hingga pada tahun 2013 Pesantren Be-songo mendapatkan amanah mengelola Pendidikan Kader Ulama (PKU) dari Direktorat Jendral Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama RI.

Saat ini Pondok Pesantren Darul Falah Be-songo semakin mengalami peningkatan jumlah santri yang mukim, terbagi menjadi 6 asrama putri dan 4 asrama putra yang tersebar di tengah-tengah warga perumahan Bank Niaga.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sejalan dengan visinya “Berakhlak Mulia dengan Kompetensi Keagamaan dan Kecakapan Hidup yang Andal”, kurikulum kepesantrenan di Be-songo tidak hanya menitikberatkan pada ilmu-ilmu keislaman salaf dengan tradisi maknani kitab kuning, tetapi juga dikombinasikan dengan keilmuan modern yang tujuannya mendukung studi santri di kampus. Seperti, ilmu dan praktik jurnalistik, manajemen, resolusi konflik, kebahasaan, dan sebagainya.

Pengasuh juga menekankan konsep kesetaraan (al-musawa), keadilan (al-’adilah), dan hak asasi perempuan (al-harakah al-insaniyah) dalam pengajaran. Dan pola pengajaran pada tiap kelas bukan saja khas pesantren salaf, sebut saja bandongan (ustaz atau ustazah membaca kitab sementara para santri menyimak dan memaknainya) juga sorogan (santri membaca kitab di depan guru), melainkan juga dengan forum diskusi atau halaqah dan bahtsul kutub sehingga dapat menambah daya kritis dan ketajaman analisis para santri.

Tidak lupa ilmu life-skills juga diajarkan di Pesantren Be-songo ini. Tujuannya sebagai bekal bagi para santri baik putra maupun putri pada kehidupannya di masyarakat kelak. Yang menarik di sini, santriwan dan santriwati harus ikut andil semua dan bisa melakukan tiap skills seperti kerajinan tangan, memasak, menjahit, membuat baki lamaran, sulam pita, sablon juga kimia rumah tangga.

Tinggalkan Balasan