“Ilmu itu tidak berjenis kelamin, tidak ada ilmu wedok (perempuan) atau lanang (laki-laki). Maka dari itu semua santri, baik santriwan maupun santriwati harus bisa segala macam keterampilan, selagi dia mau belajar,” begitu tutur Umi Arikah. Semua program keterampilan diikuti oleh semua santri sesuai dengan jadwal dan kelas masing-masing dan dilaksanakan pada setiap hari Sabtu dan Ahad, yaitu saat kegiatan akademik kampus libur.
Pengarustamaan gender dalam pendidikan pesantren juga dilaksankan dengan forum kajian keadilan gender Islam dan kesehatan reproduksi, terkhusus lagi kaitannya dengan ilmu Fiqih Nisa’ yang tidak hanya diberikan kepada santri putri, namun santri putra juga dianjurkan untuk mengikuti kelas tersebut. Seperti halnya kurikulum kampus, pola pembelajaran kelas gender ini dengan menggunakan metode presentasi dan diskusi, harapannya adalah para santri dapat lebih memahami dan menerapkan dari apa yang disampaikan dalam forum.

Pembelajaran kesetaraan gender kepada santri juga diteladankan langsung oleh pengasuh, yaitu Abah Imam dan Umi Arikhah. Mereka bersinergi dalam menjalankan roda kepemimpinan pesantren. Pembelajaran tentang relasi yang setara juga didukung dengan upaya pemberdayaan perempuan, salah satunya adalah yang berhak menjadi ketua pondok bukan hanya dari kalangan santri putra, namun santri perempuan juga bisa mengambil andil untuk menjadi lurah pondok.
Berbagai jajaran kepengurusan lainnya juga banyak dijabat oleh santri perempuan. Ini untuk menghapus subordinasi dan stigmatisasi yang berkembang di masyarakat khususnya kaum muslim bahwa pada laki-laki yang pantas menjadi pemimpin serta kedudukannya lebih mulia daripada perempuan.
