Beda Era, Beda Cara

Oleh karenanya, mayoritas atau malah seluruh santri membeli di kantin-kantin pondok atau di kantin sekolah. Tidak ada lagi cerita tentang beras, kompor minyak, kastol atau panci, wajan dan minyak tanah. Para wali santri cukup mentransfer uang untuk memenuhi kebutuhan makan mereka. Jika dulu hal itu hanya berlaku untuk santri yang jauh, tetapi sekarang berlaku secara merata, baik bagi santri yang dekat maupun yang jauh tempat tinggalnya.

Demikian juga dalam hal mengunjungi santri. Dulu, para wali santri saat mengunjungi anaknya di pondok, biasanya membawa nasi ataupun makanan lainnya dalam jumlah yang cukup banyak, malah makanan tersebut sekiranya cukup untuk santri sekamar yang jumlahnya tidak kurang dari belasan. Hal itu sangat menggembirakan, karena kami bisa seharian tidak usah memasak di dapur.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sedangkan sekarang, para wali santri cukup membawa sebungkus nasi untuk anaknya, atau dua-tiga bungkus untuk teman akrab putrinya. Karena menurut mereka percuma membawa nasi banyak karena masing-masing santri sudah mempunyai jatah sendiri-sendiri dari para orang tua mereka, atau mereka sudah mempunyai jadwal tersendiri untuk makan di kantin-kantin tertentu sesuai dengan selera mereka. Mereka juga bebas memilih menu, mulai dari kelas teri hingga kelas sate. Mulai dari nasi jagung hingga nasi rawon.

Dalam memasak mi instan pun, santri sekarang seakan-akan merasa eneg, bahkan sakit perut dan alergi jika menggunakan air mentah. Mereka cukup mengeluarkan uang receh untuk mendapatkan air masak atau sudah mendidih dari kantin. Sungguh hal mudah yang tidak semudah di alami santri dahulu.

Kemudahan-kemudahan santri “zaman now” ternyata tidak berbanding lurus dengan keluhan-keluhan para orang tua mereka.  Para wali kerap merasa kesulitan saat anaknya, yakni si santri, khusunya santri putri saat pulang liburan ke rumah. Karena mereka tidak bisa membantu orang tuanya, khususnya ibunya memasak di dapur.

Ibunya kerap dibuat pusing dan dampaknya mereka bisa ribut karena anak putrinya tidak hafal atau malah tidak tahu nama-nama peralatan di dapur. Dan saat di suruh masak pun, si anak biasanya browshing di google atau menonton terlebih dahulu tutorial-tutorial cara memasak di channel Youtube.  Sehingga acara makan bersama keluarga pun cukup memakan waktu yang agak lama.

2 Replies to “Beda Era, Beda Cara”

Tinggalkan Balasan