Beduk Maghrib Ramadhan dan Nasib Rakyat

Ini sama dengan para politisi yang hanya menjadikan kekuasaan sebagai sarana melampiaskan nafsu dan mendapatkan kenikmatan. Para politisi yang seperti ini tidak akan pernah berpikir tentang nasib rakyat, amanah, kesejahteraan rakyat, apalagi keadilan. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana bisa berkuasa, kemudian menggunakan kekuasaan untuk memperoleh kekayaan dan kenikmatan hidup. Saat mau meraih kekuasaan, mereka menahan nafsu sebagaimana orang yang berpuasa menahan lapar, dahaga, dan hasrat seksual.

Para politisi menahan nafsu kekuasaannya sampai penetapan pemenang pemilu oleh KPU. Begitu diumumkan sebagai pemenang, maka berhamburanlah nafsu itu keluar. Mereka menikmati kekuasaan secara rakus dan lahap sebagaimana orang berpuasa melampiaskan nafsunya yang tertahan seharian. Mereka makan apa saja memenuhi perutnya setelah mendengar beduk maghrib.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sikap terhadap beduk maghrib ini sebenarnya bisa menjadi strandar untuk melihat ketakwaan seseorang. Bagi seseorang yang sudah mencapai derajat takwa, maka beduk maghrib tidak semata-mata dimaknai sebagai momentum pelepasan seluruh nafsu, tetapi benar-benar dimaknai sebagai penanda waktu salat. Dengan demikian, dia tidak pernah membedakan perhatian dan kesetiaan terhadap beduk maghrib. Perhatian mereka tetap sama saat bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Demikian juga kesetiaannya dalam menunggu beduk maghrib, tetap sama pada bulan-bulan lain di luar Ramadhan. Mereka tetap perhatian dan mempedulikan beduk maghrib meski Ramadhan telah berlalu. Demikian sebaliknya, orang yang hanya memperhatikan beduk maghrib saat bulan Ramadhan saja, maka sesungguhnya belum mencapai derajat takwa.

Hal yang sama juga berlaku pada para politisi. Ketika mereka hanya memperhatikan rakyat saat Pemilu kemudian melupakan dan tidak mempedulikan rakyat setelah Pemilu, maka kualitasnya sama dengan orang yang hanya memperhatikan beduk maghrib hanya pada saat Ramadhan dan mengabaikannya saat Ramadhan berlalu. Politisi yang baik, yang sudah mencapai derajat takwa, akan tetap mengingat dan memperhatikan rakyat sekalipun sudah menjadi pemenang dalam pemilu. Mereka menempatkan rakyat sebagai tanda dan pengingat agar menggunakan kekuasaan sebagai alat menciptakan kesejahteraana dan menegakkan keadilan. Mereka tetap memperhatikan rakyat sekalipun tidak masa Pemilu. Sebagaimana para muttaqin yang terus memperhatikan dan setia menunggu beduk maghrib meski di luar bulan Ramadhan.

Jika kualitas berpuasa seseorang hanya sekadar menunggu beduk maghrib untuk melepas kekangan nafsu, jika kualitas pemimpin dan politisi hanya sekadar menjadikan rakyat sebagai sarana merebut jabatan untuk melampiaskan nafsu kekuasaan, maka mereka akan dengan mudah melupakan rakyat setelah memperoleh kemenangan sebagaimana orang yang mengabaikan beduk maghrib setelah merayakan kemenangan Idul Fitri. Artiya, derajat keberagamaan orang tersebut masih rendah, karena masih berada dalam kerangkeng dan penjara nafsu.

Tinggalkan Balasan