Namun, yang menjadi sisi paling menarik bagi saya di acara ini bukan tentang tema halakahnya. Pesantren mana yang menjadi pemenang lomba, atau hadirnya nara sumber baik itu Oki Arisandy, Cak Ahmad Kafa, Ning Sheila, bahkan bintang tamu Alfi Nindya bukanlah menjadi hal utama yang membikin saya excited. Melainkan, militansi dan pengorbanan peserta yang semuanya masih santri inilah yang membikin saya berdecak kagum sekaligus melebur lelah perjalanan panjang Jakarta-Blitar.

Bayangkan, ratusan santri yang berkhidmat di bidang media ini rela meninggalkan ngaji sejenak, izin musyawarah barang sebentar, demi meng-upgrade kualitas dan menciptakan sinergitas sesama khodim media pondok se-Jawa Timur. Hal yang membikin saya terharu lagi adalah pengorbanan ini tidak sekadar moril, tetapi materiil, alias dana. Ya, mereka ini sebagai delegasi dari pondoknya, namun masing-masing harus mengeluarkan uang pribadi.Tidak dikasih uang saku dari pesantren, apalagi sponsor.

Seperti pengakuan Mbak Fatma dari Pesantren Al Fattah Kikil, Pacitan. Untuk berangkat satu mobil dia dipatok membayar Rp 350 ribu, ditambah untuk daftar untuk ikut acaranya Rp 150 ribu. Itu belum lagi jajannya. Tapi, Mbak Fatma tidak ada keberatan sama sekali.
“Emang udah seneng saja dari dulu sama MPJ, terus bakal ketemu teman-teman dari ponpes lain, yang jelas pemateri-pematerinya, kayak remen mawon nderek kegiatan MPJ ini,” ujar Mbak Melly yang sudah ketiga kali ini ikut MPJ Fest.
Belum lagi yang dari pojok Bojonegoro, Madura, tau Banyuwangi yang tentu harus mengeluarkan duit yang lebih banyak. Itu untuk peserta. Panitia malah memiliki beban tugas dan pikiran jelas lebih banyak lagi. Misal, Mas Haqin dari Pesantren Langitan. Ia harus berangkat H-2. Saya sendiri sebelum bertolak ke Blitar, transit dulu di Madiun, ke rumahnya Pak Tajhudin Zahro’u. Setelah itu kami berangkat bersama, dan ternyata Ketua MOJ pertama ini mengajak istri bersama dua anaknya ke acara ini.
Saya kembali tercengang ketika mendapati 10 pemuda dari Media Pondok Lampung (MPL) turut hadir di tahunan MPJ ini. Ya, seperti peserta lain, mereka memakai uang pribadi. Ongkosnya mencapai Rp 2 juta per orang. Namun, Mas Tandhes yang berhasil kami hubungi merasa hal itu bukanlah pengorbanan.
