“Ya berkhidmah dan bermilitan adalah bentuk pecahan dari mahabbah kepada guru. Menurut kami, kalau ditanya pengorbanan kita bukan korban. Mungkin lebih tepatnya mahabbah pada masyayikh kita. Intinya semangat kami sampai saat ini adalah bentuk khidmah dan militan,” jelas Mas Tandhes yang sudah dua kali ikut MPJ Fest.
Pergerakan MPJ ini sepintas mengingatkan saya pada Komite Hijaz yang diarungi KH Wahab Hasbullah dan Syekh Ghonaim al-Misri. Secara harakah dan fikrah, Komite Hijaz dan MPJ ini mirip. Ketika Kiai Wahab dan Syekh Ghonaim pada 1926 jauh-jauh ke negeri Arab, demi sebuah misi menegakkan ajaran Aswaja, mengorbankan segala-galanya. Bahkan beliau tidak berkenan dibiayai dan menggunakan uang pribadi dalam perjalanan berbulan-bulan itu, yang kemudian pulang ke Nusantara membawa kabar baik dan berdirilah Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam porsi yang lebih kecil, khodim MPJ ini melakukan hal yang sama, sama-sama mandiri, berswadaya, menegakkan ajaran Aswaha via media. Lalu untuk tahun ini pulang membawa oleh-oleh baru berupa seruan untuk menolak bullying dan ilmu yang diperoleh dari para pemateri.
Apabila dilihat dari jumlah peserta MPJ Fest yang terus meningkat dari penyelenggaraan pertamanya pada 2021 di Pesantren Mahika Sidoarjo, bisa dikatakan milintansi MPJ terus menyala. Rentetan acara tiga hari itu ditutup dengan penampilan Alfi Nindya. Selanjutnya, Regional Jember akan menjadi tuan rumah dalam MPJ Fest 2025 mendatang.
Untuk diketahui, MPJ berdiri sejak 2020 di Malang. MPJ merupakan wadah para admin dan konten kreator media pondok se-Jawa Timur. Tidak menutup kemungkinan ke depan MPJ akan mengepakkan sayapnya menjadi Media Pondok Nusantara, dengan menggelorakan milintansi dalam berkhidmah.
Sekian, wallahu a’lam.
