Lambat laun ternyata benar yang dikatakan Kiai Chudlori. Sebab, setelah gamelan dibeli seluruh warga gotong royong dalam membangun masjid. Dan masyarakat pun juga hidup dengan rukun dan banyak dari mereka yang kemudian memakmurkan masjid dengan rutin beribadah.
Dalam kesempatan yang lain, Kiai Chudlori juga dikenal sering berdakwah untuk menasihati para penjahat. Salah satu kisah yang terkenal adalah tatkala Parto Tepus, seorang bandit kelas kakap, sadar di tangan Kiai Chudlori.

Parto Tepus sendiri merupakan pemimpin bandit yang terkenal jahat. Di antara kejahatan yang menjadi rutinitasnya adalah berjudi, merampok, memeras, dan bermain perempuan. Semua orang takut kepadanya, karena Parto terkenal sebagai seseorang yang kebal.
Hingga pada suatu ketika, di tahun 1949, Parto Tepus menderita sakit yang sangat parah. Karena sakitnya itu ia hanya bisa tidur berbaring selama berbulan-bulan. Sudah banyak dokter dan dukun ia datangi demi meminta kesembuhan, tapi usahanya tak menuai hasil.
Secara tiba-tiba, pada suatu hari Kiai Chudlori menjenguk Parto Tepus di rumahnya. Setelah berbincang-bincang dengan Parto dan istrinya, Kiai Chudlori kemudian meminta air satu gelas dan kemudian dibacakan doa-doa tertentu. Sembari menyuruh Parto Tepus meminum air tersebut, Kiai Chudlori berkata, “Sesungguhnya Anda tidak sakit. Ini tak lain hanya kehendak Allah swt, untuk mengurangi dosa Anda.”
