Belajar dari Kisah Nabi Musa

Tapi istri Firaun melindungi bayi itu, mengatakan bahwa ia hanya bayi, yang masih bodoh dan lemah. Namun Firaun belum puas dengan penjelasan itu. Hingga disuruhlah pembantunya menyiapkan bara dan roti. Keduanya disodorkan pada bayi itu.

Bayi Musa yang cerdas tentu saja hendak memilih roti. Tapi Jibril AS menampik tangan mungil Musa, dan memegangkannya pada bara, memaksa mengambil dan memasukkan ke mulutnya hingga kepanasan. Tentu saja bayi itu menjerit kesakitan. Namun kejadian itu membuat Firaun puas, bahwa itu bayi bodoh dan konyol saja. Sementara nyawa Musa berhasil diselamatkan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jika kesadaran Musa sudah dewasa, mungkin sejak awal akan langsung memilih bara. Namun cakrawala Musa masih sempit karena masih bayi sehingga lebih memilih roti. Padahal memilih roti bakal membuat dirinya mati.

Melubangi Perahu si Miskin

Dalam perjalanan hidup ketika menjalani tugas kerasulan, berlangsunglah kisah yang serupa dengan masa bayinya. Namun, kali ini subjeknya digeser.

Ini berlangsung dalam perjumpaan Musa dengan lelaki misterius, di mana Musa yang merasa paling pandai oleh Tuhan disuruh belajar darinya. Hal itu terekam dalam Surat Al-Kahfi ayat 60-82. Lelaki misterius itu oleh banyak penafsir disebut Khidir, sosok Nabi yang diyakini baru bakal wafat saat kiamat.

Dalam perjumpaan pertama, Khidir mengajukan syarat pada Musa agar tidak mempertanyakan apa yang ia lakukan, dengan batasan tiga kali. Lewat tiga kali, Musa harus berpisah dengan gurunya. Dan Musa menyanggupinya.

Dalam perjalanan, tibalah mereka pada sebuah sungai yang hendak diseberangi. Khidir dan Musa akhirnya memakai satu perahu untuk menyeberanginya.

Di tengah jalan, maksudnya di tengah sungai, tiba-tiba Khidir melubangi perahu itu. Tentu saja Musa protes. Protes yang sangat wajar. Protes yang setidaknya didasari dua hal, pertama, tindakan Khidir jelas membahayakan diri. Kedua, itu perahu bukan haknya, tapi milik orang lain. Merusak milik orang lain adalah kezaliman. Dan bukankah Musa bertugas membebaskan Bani Israel dari kezaliman Firaun?

Namun Khidir tidak menjelaskan alasannya, melainkan memperingatkan Musa atas perjanjian sebelumnya, di mana Musa dilarang mempertanyakan. Meski di akhir cerita, pembaca diberi tahu bahwa perahu itu milik seorang yang miskin. Sementara di ujung sana sudah ada perompak yang siap menjarah perahu-perahu yang ada. Dengan melubanginya, perahu itu justru akan selamat dari jarahan.

Tinggalkan Balasan