Musibah atau Anugerah?
Sebagaimana cerita Musa yang memakan bara, apakah perahu yang dilubangi itu musibah atau anugerah bagi pemiliknya?

Seperti Musa yang menangis kencang kesakitan ketika memakan bara, kadang suatu peristiwa menyakitkan menimpa kita. Kita menjerit, dan terkadang protes atas takdir.
Tapi, lewat kisah itu, Tuhan seperti memberi pelajaran, bahwa terkadang apa yang menyakitkan dan karenanya kita tidak menyukainya adalah yang terbaik, sementara apa yang kita sukai justru menjerumuskan. Rasa suka memang sering tak seiring dengan kebaikan itu sendiri.
Sebagaimana Musa bayi yang mau memilih roti, tapi justru jalan yang selamat adalah memilih bara. Bayi Musa tak jadi dipenggal oleh Firaun. Begitu juga halnya Nabi Musa yang melihat “kezaliman” Khidir yang melubangi perahu si miskin, yang ternyata adalah menyelamatkan.
Jika kita atau saya adalah Musa, pasti juga akan protes. Padahal rupanya hanya soal wawasan saya belum meluas, tapi terburu menghakimi.
Bukankah memang kodrat kita untuk tak mungkin berwasasan luas dalam hal apapun sehingga belajar adalah wajib sepanjang hayat? Saya pikir Nabi Musa juga manusia, yang dalam kisah itu adalah sosok yang tak berhenti belajar. Bahkan pada “orang aneh” yang maqamnya mungkin masih di bawahnya.
Kita memang manusia, dengan jenis perjalanan unik masing-masing. Dalam melihat kenyataan dan berkaca pada teks, kita sering melupakan diri kita dengan aneka pengalaman yang membentuk kita, membentuk asumsi dasar kita.
Nabi Musa yang terbiasa melihat penguasa yang zalim dan bertugas membebaskan masyarakat dari kezaliman, ketika melihat perahu si miskin dilubangi gurunya, pasti emosional. Maka ia tak kuat untuk segera memprotes. Baru ketika satu lapis kenyataan tersibak, Musa menyadari bahwa dirinya harus lebih hati-hati.
Tipuan iblis sering berlapis. Kenyataan juga bukan sesuatu yang statis. Baik kenyataan luar, atau kenyataan diri kita sendiri. Sikap “berjarak” atau “menangguhkan” terlebih dahulu untuk bersikap atas berbagai hal yang belum benar-benar kita pahami adalah sikap yang tepat.
