Keempat, karena pergaulannya yang begitu rapat dengan bangsa-bangsa lain di jalur perdagangan dunia di Samudera Hindia, orang-orang pesantren juga mengajarkan anak-anak bangsa ini cara-cara menghadapi dan bersiasat dengan bangsa-bangsa lain, terutama dengan orang-orang Eropa (kini Amerika) yang berniat menguasai wilayah di Asia Tenggara.
Kelima, orang-orang pesantren juga mengajarkan kepada anak-anak bangsa ini untuk memaksimalkan serta memanfaatkan segenap potensi ekonomi dan sumber daya negeri ini. Itu sebabnya pesantren hadir di dekat sumber-sumber mata air dan sumber-sumber kekayaan alam.

Dari pendidikan yang diajarkan oleh pendiri Jam’iyyah NU tersebut, menunjukkan bahwa peran pesantren dalam meneruskan perjuangan Wali Songo dalam membantu anak-anak bangsa ini memelihara segenap memori kolektif bangsa ini dari masa lalu tentang kejayaannya, tentang segenap pengalamannya berhadapan dengan bangsa-bangsa asing, hingga membantu mereka mengingat kembali perjuangan orang-orang yang berkorban untuk bangsa dan tanah air ini.
Mekanisme untuk itu dilakukan dengan memelihara sejumlah tradisi, ritual, upacara, dan segenap praktik-praktik keagamaan, kesenian, dan berkebudayaan. Seperti tradisi ziarah makam, penghormatan terhadap petilasan tokoh-tokoh penyebar Islam pertama atau nenek moyang pembuka desa pertama. Praktik-praktik ini menghubungkan satu generasi ke generasi berikutnya, dari satu komunitas ke komunitas lainnya, sehingga solidaritas berbangsa, persatuan dan kebersamaan di antara komponen bangsa ini, ikut terjaga.
Ulama dan santri yang merupakan pilar penting dalam pesantren menjadi garda terdepan dalam menjaga bangsa Indonesia, karena pesantren secara historis mempunyai andil besar mendirikan bangsa Indonesia. Karena itu, sulit dipercaya ketika seseorang yang membangun rumah malah dirusak sendiri.
Karenanya ketika ada orang yang mengaku-ngaku ulama atau santri dari pesantren tetapi tidak cinta tanah air atau ingin merusak bangsa Indonesia, maka perlu dipertanyakan kesantriannya atau keulamaannya.
Referensi:
- Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren Pendidikan Alternatif Masa Depan, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997).
- Abdurrahman Mas’ud, Intelektual Pesantren Perhelatan Agama dan Tradisi.
- Ahmad Baso, Kyai Haji Hasyim Asy’ari: Pengabdian Seorang Kyai Untuk Negeri.
