Resolusi jihad tersebut juga yang menjadi semangat perlawanan para pejuang kepada penjajah yang puncaknya pada 10 November atau yang kita peringati Hari Pahlawan. Karena pentingnya peran santri dan ulama dalam melawan penjajah khususnya setelah Resolusi Jihad, pemerintah menetapkan tanggal 22 Oktober menjadi Hari Santri Nasional.
Hal tersebut mengindikasikan bahwa peran pesantren dalam wacana kebangsaan sangatlah besar, terlebih para ulama pesantren Nahdlatul Ulama (NU) khususnya, sering menggaungkan gagasan “Hubbul wathon minal iman” yang artinya mencintai Tanah Air sebagian dari iman. Karena, para ulama percaya bahwa tidak mungkin menyebarkan syiar agama Islam kalau tanah airnya tidak aman. Oleh karenanya, para ulama walaupun Indonesia negara mayoritas Islam tidak mengenalkan konsep “Daarul Islam” atau Negara Islam, tetapi “Daarus Salam” atau negara yang damai.

Karakter Kebangsaan KH Hasyim Asyari
Wacana kebangsaan yang dibawa oleh pondok pesantren itu tanpa sebab. Selain diajarkan pendidikan Islam, dalam pesantren juga diajarkan pendidikan karakter kebangsaan. Dalam buku Kyai Haji Hasyim Asy’ari: Pengabdian Seorang Kyai Untuk Negeri, Ahmad Baso memaparkan beberapa pendidikan karakter kebangsaan yang dilakoni KH Hasyim Asy’ari, sekaligus yang diajarkan kepada santri-santrinnya :
Pertama, pendidikan karakter pesantren berupaya mengajak bangsa ini untuk mandiri bukan hanya dalam soal ekonomi dan politik. Dalam pendidikan seperti ini, anak-anak kita diajarkan bahwa bangsa ini juga punya pengetahuan sendiri, tahu, dan berilmu. Ada kebanggaan tersendiri untuk tahu tentang dirinya sebagai bangsa, punya tradisinya sendiri, dan juga percaya diri bahwa mereka bisa melakukan kerja pengetahuan yang bebas dan mandiri.
Kedua, pendidikan karakter pesantren mengajarkan anak-anak didiknya untuk bergaul dan bersatu di antara sesama anak-anak bangsa se-Nusantara, apa pun latar belakang suku dan agamanya. Mereka diajarkan untuk saling berinteraksi secara harmonis di antara berbagai komunitas bangsa tersebut. Kalau ada perselisihan, mereka diminta untuk berdamai melalui mediasi para ulama pesantren atau yang ditunjuk oleh orang orang pesantren untuk memerankan fungsi mediasi tersebut.
Ketiga, pengetahuan diabdikan bagi kepentingan dan keselamatan nusa dan bangsa ini. Itu sebabnya pesantren mengajarkan berbagai jenis kebudayaan Nusantara yang akan menjadi alat perekat, pertahanan dan mobilisasi segenap kekuatan bangsa ini.
