Beling dan Cerita tentang Kita

Seperti biasanya, pada Minggu pagi di pondok diadakan roan, kerja bakti bersih-bersih di lingkungan pesantren. Ada santri yang kebagian mengepel musala, menyapu halaman, menguras dan membersihkan jeding, menyapu ruang-ruang kelas, mencabuti rumput-rumput liar, dan, tentu saja, membersihkan bilik masing-masing.

Saya bersama seorang teman santri memilih menyapu dan mengumpulkan sampah-sampah tak jauh dari tempat pembuangan sampah. Tanpa dinyana, entah dari arah mana datangnya, Pak Kiai sudah berada di samping saya. Kami langsung membungkuk memberi hormat, tentu saja dengan rasa cemas dan waswas kalau-kalau…

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tiba-tiba Pak Kiai menunjuk tanah, “Coba itu kamu ambil.”

Kami saling menoleh bingung. Di atas tanah yang ditunjuk Pak Kiai hanya ada beling, pecahan bohlam atau lampu listrik. “Ya, itu… beling itu,” kata Pak Kiai saat saya mencoba memungutnya.

Beling itu pun saya serahkan kepada Pak Kiai, teman saya diam membatu. Kini beling itu ada di tangan Pak Kiai, ditimang-timang sebentar, lalu diserahkan kembali pada saya. “Makanlah,” perintah Pak Kiai sambil tersenyum.

“Lah, apa salah saya pagi-pagi sudah dihukum, disuruh sarapan beling,” kata saya dalam hati dengan tubuh gemetar. Teman saya kian membatu.

Tinggalkan Balasan