Seakan tahu kegalauan dan ketakutan yang saya rasakan, Pak Kiai menepuk bahu membesarkan hati saya. “Makanlah. Kamu sudah bisa memakannya,” Pak Kiai mengulang perintahnya, tetap dengan tersenyum.
Samina wa athona, krek-krek-krek…, saya pun memakannya. Masyaallah, dalam sekejap beling itu hancur, menjadi tepung, menjadi bubur di mulut saya. Jadilah, pagi itu saya sarapan bubur beling.

Pak Kiai tersenyum sambil sekali lagi menepuk bahu saya, “Sudah tambah satu lagi ilmumu.” Saya masih terdiam takjub. “Asal kamu mampu menjaga diri, tetap menjalani hidup bersih, ilmu itu tak akan hilang,” kata Pak Kiai sambil berlalu.
Sampai beberapa tahun kemudian, sesekali saya masih mencoba “mengunyah” beling dan, alhamdulillah, dengan krek-krek-krek beling-beling itu menjadi tepung. Tapi, sekarang, jangankan menggigitnya, sekadar membayangkannya pun sudah tak berani lagi. Anda pasti tahu kenapa….
***
Sahabat-sahabat santri, cerita itu, atau cerita-cerita seperti itu, hanyalah satu di tengah belantara cerita yang hingga kini tetap hidup di dunia santri, di pesantren-pesantren. Mungkin hal-hal semacam itu kita anggap sebagai sesuatu yang remeh, atau kita remehkan, tapi nyata benar sebagai bagian dari tradisi hidup dunia santri, ada di pondok-pondok pesantren.
