Berida Tutur Menyigi Ingatan: Diskusi Buku Malantiong Pawo

Malam itu, gerimis sempat turun pelan. Seakan malu melihat semangat para penulis dan panitia diskusi yang sejak sore telah bersiap. Mulut-mulut komat-kamit berdoa agar gerimis tak menjelma bulir hujan—tak menyurutkan langkah tamu dan penulis untuk datang dan berbagi cerita. Doa-doa kecil itu akhirnya terkabul. Malam tetap berjalan, dan diskusi pun dimulai.

Bertempat di Sukaria Social Space, Kampar, Riau, pada Sabtu, 10 Januari 2026, diskusi buku Malantiong Pawo: Cerita dari Ingatan Masa Kecil menjadi ruang temu bagi kenangan, kata, dan percakapan. Buku ini tak hanya dibaca, tetapi dihidupkan kembali melalui dialog, pertanyaan, dan refleksi bersama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Diskusi menghadirkan Ria Astika Sari sebagai narasumber, dengan Aprillia Putri Kadiah memandu jalannya acara sebagai MC, serta Delfianty sebagai moderator. Sedianya, Bambang Irawan turut hadir sebagai narasumber. Namun keadaan berkata lain. Abangnya jatuh sakit dan harus menjalani perawatan di ruang UGD salah satu rumah sakit di Pekanbaru. Ketidakhadiran Bambang Irawan sempat menyisakan kekecewaan kecil bagi para hadirin.

Kekecewaan itu tak berlama-lama. Ruang diskusi kembali menemukan denyutnya ketika Cik Siti, inisiator penulisan cerita anak dari Yayasan Berida Tutur, mengambil peran. Kehadirannya menjadi penyangga percakapan, mengisi ruang yang kosong dengan pengalaman, gagasan, dan semangat literasi anak yang telah lama ia rawat.

Meski demikian, tak semua penulis Malantiong Pawo dapat hadir. Liburan yang tak bisa ditunda, kesibukan rumah tangga yang tak terelakkan, hingga kondisi kesehatan yang datang mendadak menjadi alasan. Namun ketidakhadiran fisik tak menghapus kehadiran gagasan mereka. Cerita-cerita dalam buku tetap berbicara melalui diskusi yang berlangsung hangat.

Dalam diskusi, seniman dan penyair asal Bukittinggi, Iin Muhidin, menyampaikan satu catatan penting: agar Malantiong Pawo tidak mati, buku ini perlu terus didiskusikan—bahkan bila perlu per judul cerita. Sebab, menurutnya, buku akan hidup ketika ia terus dibicarakan, dipersoalkan, dan dibaca ulang dari berbagai sudut.

Melalui buku ini pula, Ria Astika Sari bercerita tentang hilangnya keseimbangan antara manusia dan alam hari ini. Ia mengenang masa kecil ketika alam masih ramah—mandi di sungai tanpa rasa was-was, bermain tanpa ketakutan. Kini, kenangan itu menjadi cerita, sekaligus peringatan.

Pertanyaan datang dari Baim, yang menyoroti proses kreatif penulisan buku Malantiong Pawo. Ia mempertanyakan bagaimana menyatukan cerita dari para penulis yang berasal dari berbagai daerah—Kampar, Pekanbaru, Siak, Rokan Hulu, Indragiri Hilir, hingga Tanjung Pinang—dalam satu buku yang utuh. Sebuah kerja kolaboratif yang, menurutnya, tentu tidak mudah.

Sementara itu, Andreas Mazland menyampaikan kritik yang tajam sekaligus reflektif. Ia mempertanyakan bagaimana cara agar buku ini tidak hanya diterima oleh kalangan penulis, tetapi juga benar-benar sampai kepada anak-anak—bahkan anak-anak di luar Kampar, hingga kelak bisa diterima dunia. Ia juga mengingatkan agar cerita anak tidak mengedukasi dengan ketakutan. Anak-anak, katanya, tidak boleh dibesarkan dengan kisah yang menjadikan mereka pengecut, melainkan dengan cerita yang menumbuhkan keberanian, kreativitas, dan kemampuan berpikir produktif.

Harapan serupa juga disampaikan oleh Hafizah, Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Salo. Ia berharap kegiatan penulisan dan diskusi cerita anak semacam ini tidak berhenti pada satu buku saja. Harapan tersebut sejalan dengan Intan Jamilah Ulfa, yang menekankan pentingnya kesinambungan gerakan literasi anak agar tidak berhenti sebagai proyek sesaat.

Penegasan atas keberlanjutan itu kembali disampaikan oleh Cik Siti. Ia menegaskan bahwa penulisan cerita anak ini akan terus berlanjut. Menurutnya, kerja-kerja literasi ini bukan sekadar menghasilkan buku, melainkan bagian dari upaya merawat ingatan masa lalu, merevitalisasi bahasa ibu, mewariskan kebudayaan, dan memperhalus akal budi generasi mendatang.

Malam itu tak hanya diisi diskusi buku. Puisi dibacakan, dimusikalisasi, dinyanyikan. Sastra lisan, dongeng anak, hingga monolog turut mewarnai suasana. Sastra menjelma peristiwa, bukan sekadar teks.

Diskusi ini menjadi upaya menumbuhkan ruang-ruang diskusi yang sehat dan berkelanjutan. Sebuah pengingat bahwa berkarya tak cukup hanya dengan menulis dan menerbitkan. Ia membutuhkan diskusi, kritik, masukan, serta kesediaan untuk mendengarkan dengan baik. Dari sanalah karya menemukan maknanya—dan penulis menemukan keberaniannya.

Di tengah gerimis yang urung menjadi hujan, Sukaria Social Space malam itu menjadi saksi: sastra tumbuh dari perjumpaan, dari keterbatasan, dan dari niat untuk terus merawat ingatan bersama.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan