Peradaban modern memiliki satu kebiasaan yang jarang kita sadari, yaitu mengukur kebenaran hanya dari apa yang bisa dihitung, diuji, dan dibuktikan secara ilmiah. Hidup di tengah satelit, roket, kecerdasan buatan (AI), dan berbagai simulasi teknologi, manusia perlahan terbiasa berpikir bahwa sesuatu baru dianggap masuk akal jika sesuai dengan standar sains. Di titik inilah Isra Mikraj sering ditempatkan secara keliru, bukan sebagai peristiwa iman, melainkan sebagai teka-teki fisika yang harus dicari pembenarannya.
Padahal sejak awal, Isra Mikraj tidak pernah hadir sebagai eksperimen ilmiah. Namun manusia modern kerap tergoda membandingkan Buraq dengan teknologi transportasi masa kini. Kita sering kali mengaitkannya dengan kecepatan cahaya, teori relativitas waktu ala Albert Einstein, atau gagasan tentang ruang dan waktu yang melengkung. Memang benar, teori relativitas menjelaskan bahwa waktu bisa berjalan lebih lambat pada kecepatan sangat tinggi. Contohnya, para astronot di Stasiun Luar Angkasa mengalami perbedaan waktu, dibanding manusia di Bumi. Fakta ini nyata dan dapat dibuktikan secara ilmiah.

Namun di sinilah batas sains bekerja. Sains menjelaskan bagaimana alam berjalan, bukan mengapa Tuhan harus tunduk pada hukum alam tersebut. Relativitas waktu tidak otomatis menjelaskan Isra Mikraj, sebagaimana ilmu aerodinamika tidak bisa menjelaskan mengapa doa mampu mengubah seseorang. Ketika mukjizat dipaksa menjadi sekadar rumus, justru maknanya menjadi sempit.
