Berkat Kiai Sarungan

Jum pun kembali melangkahkan kakinya menelusuri jalanan desa yang terasa semakin gelap. Kini dia memutuskan untuk pulang dan menunggu. Menunggu kebaikan Ustaz Yus atau menunggu Pak Barus tepati janjinya esok pagi. Tapi apakah Jal yang sakit bisa menunggu?

***

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Melihat Jum pulang dengan basah kuyup, Mak Roh kaget bukan main. ”Ya Allah! Jum, kamu ke mana saja sampai basah kuyup begitu, lama lagi!”

“Ke rumah Pak Barus terus ke Rumah Ustaz Yus buat cari pertolongan.”

“Loh! Minta pertolongan apalagi! Jal sudah ada yang nolong!”

“Siapa Mak!”

“Santri-santrinya Kiai Sobari. Mereka disuruh Kiai Sobari untuk membawa Jal ke klinik!”

Jum tertegun dalam kebingungannya. Dia tak tahu siapa yang mendatangi Kiai Sobari. Kiai yang pesantrennya ada dipinggiran desa, pesantren yang tidak besar apalagi megah, jarang dikunjungi orang apalagi pejabat atau orang partai. Beliau selalu mengenakan sarung, begitu juga santri-santrinya, hingga warga desa menyebutnya pesantern sarungan, tetapi ada juga yang mengejeknya kaum kurungan, kaum yang terkurung. Tidak gesit dan lihai seperti Ustad Yus yang memakai celana hingga dia dekat dengan para pejabat dan orang politik.

“Jum untung kamu kepikiran menemui Kiai Sobari! Ayo buruan kamu ganti baju kita harus ke pesantrennya, mau diantarkan ke klinik nyusul si Jal!”

Jum terdiam, dia merasakan hatinya bergetar.

“Jum kenapa malah menangis, ayo buruan!”

“Oh, iya Mak! Jum menyeka air matanya dan bergegas memasuki kamar.

Tinggalkan Balasan