Azan Maghrib lalu berkumandang, lepas dari itu zikir-zikir dilantunkan santri yang sedang bertugas sesuai jadwal. Tak lama kemudian, Kiai Nur Huda (pengasuh Pesantren Salafiyah Ismailiyah) memasuki musala pesantren. Memang sengaja pengasuh ketiga Pesantren Ismailiyah itu tidak mengambil posisi imam. Sebab di pesantren kami, selain salat shubuh, yang bertugas menjadi imam adalah beberapa santri yang memang dipilih oleh kiai sebelumnya.
Sehabis berjemaah dan melakukan dikir bakda salat, biasanya kami melakukan rutinitas harian, yakni mengaji kitab bersama secara melingkar. Ada beberapa kitab yang kami kaji di pesantren, mulai dari Aqidatul Awam sampai Fathul Qarib. Materi-materi dalam kitab itu disampaikan oleh kiai lalu diperhatikan para santri

Namun, malam itu tampak berbeda, kiai tidak membuka kitab sebagaimana mestinya. Setelah beberapa santri menyiapkan formasi melingkar, kiai justru makon (memerintahkan) saya untuk ceramah di depan para santri. Jelas, semua tampak bingung, apalagi saya.
Awalnya saya terkejut, takut, namun pasrah. Yang namanya perintah guru, mau tidak mau harus dilakukan, selama itu dalam kebaikan. Saya tidak tahu betul kenapa kiyai memerintahkan saya untuk ceramah. Bisa dua kemungkinan; pertama, hal itu memang dipilih secara random (acak), dan kebetulan saya yang terpilih; atau, kedua, karena saya adalah ketua pengurus pondok, sehingga tanpa pikir panjang, kiai memerintahkan saya sebagai perwakilan.
Bagai berjalan dalam gelap, langkah kaki saya menuju tempat imam seolah terasa berat. Saya tidak tahu apa yang harus disampaikan nanti. Saya juga tidak menyiapkan materi. Meskipun saya pernah—bahkan sering—mengikuti kompetisi public speaking (seperti debat dan lainnya), atau biasa presentasi di depan kelas, namun ini tampak sangat berbeda.
