Saya harus menyiapkannya dengan spontan. Lantas saya dilanda rasa pesimis, di samping juga berusaha agar tidak terlihat konyol di depan para santri. Dengan pikiran yang tenang, saya memikirkan cara agar bisa memberikan penyampaian yang logis, tertata, sekaligus terkonsep dengan rapi. Meskipun, kembali lagi, itu dilakukan secara spontan.
Bagai menemukan lentera di tengah gelap, saya punya ide untuk keluar dari kegusaran itu. Secara tiba-tiba, saya teringat dengan tulisan pertama saya ketika masih duduk di kelas Madrasah Tsanawiyah Nasy’atul Mutaallimin Gapura, beberapa waktu silam. Tulisan teks pidato yang saya buat untuk tugas semester, yang kemudian dibaca ketika puncak haflah saat itu.

Memang benar, saya tidak mungkin bisa mengingat tulisan itu secara utuh. Namun, konsep penyajiannya dan argumentasi yang disampaikan di dalamnya masih saya ingat betul. Maka kemudian saya bermaksud untuk menyampaikan hal sebagaimana yang ada dalam tulisan tersebut. Tentunya, dengan melakukan improvisasi dan menyesuaikan dengan kondisi serta permasalahan yang terjadi saat ini.
Suasana saat itu tampak tidak biasa. Biasanya saya merasa enjoy berbicara dan presentasi di depan teman-teman dan audiens. Namun, karena ini langsung di depan kiai, saya merasa sungkan dan takut salah.
Tapi Alhamdulillah, kurang lebih 10 menit, jiwa saya secara berangsur merasa tenang. Semua kata-kata yang keluar dari mulut saya seolah mengalir begitu saja. Saya merasa tulisan saya beberapa waktu silam yang membahas tema ‘pemuda’ itu telah menyelamatkan saya dari keadaan darurat tersebut. Setelah semua selesai, saya merasa puas dengan apa yang telah disampaikan, sekaligus diselimuti rasa lega yang amat dahsyat.
