“Alhamdulillah…. Sudahlah, kalian tidak usah ribut-ribut. Saya bersyukur, yang dicopet itu saya.”
“Apa maksudnya Kiai ?”

“Syukur… syukur… Alhamdulillah. Karena saya yang dicopet, bukan saya yang menjadi pencopetnya!”
“Kok bisa begitu kiai?”
“Sekarang apa jawaban kalian jika aku tanya, lebih baik mana menjadi orang yang dicopet atau menjadi tukang copetnya?”
Jawaban Kiai Arwani sungguh tak terbantahkan dan masuk akal. Para santri yang menyertai beliau pada geleng-geleng kepala tanda paham dan takjub.
