Singkat cerita, kami pun setuju. Syafi’i mengajak saya ke entah. “Ikut aku saja,” katanya pada saat itu. Saya pun turut bagai kerbau yang dicocok hidungnya. Sampailah di halaman madrasah, MTs I Annuqayah. Kemudian, Syafi’i mengambil sebuah kelapa yang ada di sana. Beberapa butir kelapa berserakan seakan tidak ada yang punya. Di halaman madrasah ada pohon kelapa dan buahnya seringkali ditinggal di bawahnya. Maka, tidak heran jika oleh santri yang sedang menuju kelas, kelapa itu ditendang ke sana ke mari. Jadi, kelihatannya buah kelapa itu tidak ada pemiliknya. Padahal sebenarnya ada, hanya kami tidak tahu siapa pemilik pohon kelapa tersebut.
Biasanya, mengupas kelapa itu menggunakan alat (arek yang cukup besar, orang Madura bilang sadhe’ raja: arek besar), tetapi oleh Syafi’i kelapa itu hanya dibanting-banting ke tanah hingga pada akhirnya buah kelapa itu hancur berkeping-keling. Kepingan buah kelapa itu kemudian dikumpulkan dan dibawa ke rumah tetangga untuk diparut.

Pada saat mengupas kelapa itu hati saya berdegup kencang. Gugup dan takut. Bukannya kelapa itu punya orang? Bagaimana kalau nanti ketahuan. Bukankah ini termasuk pencurian? Begitu terus hati saya berbisik. Namun perbuatan itu terus berlanjut. Lapar telah menguasai perut dan pikiran kami.
Sementara, yang punya akses ke rumah tetangga adalah Halim. Maka ia bertugas untuk memarut kelapa dengan alat parutan pinjaman. Tentu saja di pondok tidak ada alat parutan. Sebab alat tersebut tidak biasa digunakan. Memang, ada saya lihat alat parutan itu punya teman saya yang lain. Tetapi terbuat dari kaleng besar yang dibolongi pakai paku. Ya, jadilah parutaan yang sederhana dan dalam kondisi darurat.
Tidak berapa lama Halim sudah selesai dengan hasil parutan kelapa. Lagi-lagi Syafi’i yang punya ide, memeras kelapa itu menjadi santan. Beras pun dijerang untuk dimasak. Entah bagimana proses yang benar, yang pasti nasi dengan air santan kelapa akhirnya sudah matang. Kami bertiga bersiap makan. Ketika tiba-tiba seorang teman dari daerah lain (derah Latee) datang dan nimbrung. Sebut saja namanya Zainal. Dalam hati saya bergumam, “Enak saja langsung makan, gak perlu susah-susah membuat dari sejak awal.”

Ternyata juga pernah nakal Pak Rusdi. 🤭
Aiii…. Saya diajak saat itu Mas Sigit, ya itu tadi, kok mau ya? Tapi info terakhir dr teman saya, Syafi’i dan Halim bahwa itu sudah di-acc sama yg punya. Mereka ternyata kenal dengan pemilik pohon kelapa, anaknya masih sekelas juga dengan kami. Alhamdulilah….