Akhirnya kami pun kenyang dengan makanan ghasop alias subhat. Kelapa yang kami gunakan belum jelas. Apakah direlakan oleh pemiliknya atau tidak. Melihat kondisinya, kelapa itu seakan dibiarkan begitu saja. Pemilik seakan tidak peduli dengan buah kelapa yang berserak. Meski demikian, sampai detik ini saya masih berusaha untuk berjumpa dengan si pemilik. Atau bahkan, jika pemilik buah kelapa itu tidak ada, bisa berjumpa dengan ahli warisnya. Ya, untuk meminta maaf atas sebuah kelapa yang “terpaksa” digasak.
Sekarang, teman saya yang bernama Syafi’i menjadi pimpinan lembaga pesantren di Jember. Semantara, Halim menjadi dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saya sendiri membantu mengajar di SMPN 1 Batang-Batang dan MTs Darul Ulum Batuputih. Komunikasi kami bertiga hingga sekarang masih lancar dan seringkali chating hal-hal kenangan selama kami mondok.

“Masih ingat kisah buah kelapa itu, Sahabat?”
Kami bertiga seringkali tertawa berderai jika saya ingatkan kisah itu.

Ternyata juga pernah nakal Pak Rusdi. 🤭
Aiii…. Saya diajak saat itu Mas Sigit, ya itu tadi, kok mau ya? Tapi info terakhir dr teman saya, Syafi’i dan Halim bahwa itu sudah di-acc sama yg punya. Mereka ternyata kenal dengan pemilik pohon kelapa, anaknya masih sekelas juga dengan kami. Alhamdulilah….