Pada masa saya nyantri, kiriman dari rumah bukan uang, tapi bekal berupa beras (beserta lauk awetan) untuk dimasak di pondok. Setidaknya itu pengalaman saya sebagai santri di Pondok Pesantren Annuqayah, termasuk santri (mungkin tidak semuanya) yang semasa dengan saya. Santri yang satu pondok dengan saya, model kirimannya hampir sama dan tidak jauh berbeda. Belum lumrah dikirim berupa rupiah dalam bentuk nontunai, melalui bank misalnya. Saat itu nomor rekening bagi saya masih dalam hayalan.
Pada suatu hari, kiriman saya telat umtuk beberapa hari. Sebenarnya hal seperti ini sesuatu yang lumrah. Biasanya kiriman yang sedianya satu bulan, masih bersisa untuk beberapa hari ke depan. Setidaknya dua atau tiga hari masih bisa makan dari sisa sebulan. Namun saat itu, beras saya benar-benar ludes. Tidak bersisa sedikit pun, dan itu artinya saya harus menahan lapar entah sampai kapan waktunya.

Keluarga saya memang sederhana. Tetapi bukan berarti kere-kere amat. Kalau hanya untuk makan tidak pernah kekurangan. Kalau tiba-tiba kehabisan, dan perlu upaya untuk memenuhinya, itu sudah biasa. Entah mengapa saat itu kiriman saya telat. Saya tidak tahu pasti. Mungkin karena ada satu kepentingan yang membuat anggota keluarga saya tidak bisa berkunjung ke pesantren.
