Zawawi kemudian menyitir ayat Al-Quran, “Sabbha lillahi ma fissamawati wal ardh,” bertasbih segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Tasbih di sini dengan segala macam redaksinya adalah merupakan karya sastra Yang Maha Agung, yang dapat dijadikan meditasi untuk kesehatan mental.
Selanjutnya, Zawawi Imron menyitir puisi Sapardi Djoko Damono dengan judul Dalam Diriku. //Dalam diriku mengalir sungai panjang, //Darah namanya; //Dalam diriku menggenang telaga darah, //Sukma namanya; //Dalam diriku meriak gelombang sukma, //Hidup namanya! //Dan karena hidup itu indah, //Aku menangis sepuas-puasnya.//

Dalam puisi ini, Sapardi menghendaki bahwa segala sesuatu dimulai dari diri sendiri. Dalam pepatah Arab disebutkan, “Man ‘arofa nafsahu, ‘arofa Robbahu,” barang siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka ia mengenal Tuhannya. Itu artinya imunitas tubuh harus dimulai dari diri sendiri untuk menjaga pikiran dari hal-hal yang kotor. Ketika pikiran kita positif, maka penyakit dengan berbagai jenisnya akan teratasi dengan sendirinya.
“Kiai Ali Manshur, pencipta Selawat Badar, selawat yang sangat populer di kalangan Nahdhatul Ulama, merupakan karya sastra yang seringkali dijadikan meditasi untuk menjadikan pikiran yang sehat,” begitu Kiai Zawawi menjelaskan terkait dengan Selawat Badar, karya sastra fenomenal yang sering dibaca di kalangan masyarakat bawah. Jadi, karya sastra dapat menjadi jembatan untuk kesehatan mental yang akhirnya akan menjadikan tubuh kita sehat.
Begitu pula dengan penyair Binar Ramadhan, Sosiawan Leak. Sastrawan yang tampil dengan rambut terurai panjang ini menjelaskan bahwa pandemi kali ini bukan yang pertama. Bahwa sebelumnya sudah pernah terjadi yang namanya wabah. “Buku-buku sastra terkenal seperti Salah Asuhan dan lain-lain menjelaskan tentang wabah atau pandemi,” demikian Sosiawan Leak menjelaskan sambil menyebutkan berbagai karya sastra yang settingnya berdasarkan wabah/pandemi.
Penyair yang sudah menerbitkan buku keempatnya terkait sastra ini mengatakan, “Sastra melahirkan rasa empati bagi korban wabah atau pendemi. Simpati, rasa kemanusiaan, persaudaraan, persatuan, rendah hati, dan lain sebagainya.”
Kemudian Sosiawan lebih lanjut mengatakan bahwa sastrawan, ulama, ustaz, dan tokoh masyarakat seharusnya dilibatkan dalam menangani wabah. Karena wabah itu tidak hanya dihadapi secara medis, tetapi juga ditangani secara meditasi. Dan sastra (sastra doa) adalah salah satu cara untuk meditasi, penyembuhan secara mental spiritual.
“Situasi pandemi melahirkan meditasi, perenungan, muhasabah diri, agar lebih mendekat lagi kepada Yang Mahakuasa,” katanya. Di sini Sosiawan menjelaskan bahwa di balik wabah terdapat hikmah yang dapat kita jadikan pelajaran. Bahwa persatuan, kekeluargaan, dan taqarrub menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial kita. Berdoa disertai dengan ikhtiar yang maksimal akan melahirkan kesuksesan dalam menghadapi pandemi.
Selanjutnya, para sastrawan ini juga menyinggung masalah Muktamar Satra. Acara akbar sastra ini, sebagaimana dijelaskan oleh Raedu Basha, rencananya akan dilaksanakan di salah satu pesantren di Madura. “Pesantren di Madura sangat fenomenal dalam kaitannya dengan sastra. Tidak sedikit penyair atau sastrawan yang lahir dari pesantren di Madura,” demkian Raedu menjelaskan bahwa jika memungkinkan Muktamar Sastra akan dilaksanakan sebagaimana normalnya. Akan tetapi, jika masih terkendala dengan pandemi, akan dilaksanakan secara virtual kolaboratif, perpaduan antara daring (dalam jaringan, virtual, online) dan luring (luar jaringan, tatap muka).
