Di pondok pesantren memang tidak sedikit santri merupakan anak orang kaya, dan sebelumnya mereka di rumah hidup penuh kecukupan, serba terpenuhi, dengan fasilitas yang memadai. Agaknya dengan jalan prihatin, hidup sederhana, makan apa adanya, akan melatih mereka menjadi santri yang tangguh dalam menghadapi hidup. Ibarat menjadi orang kaya, menjadi orang kaya yang bersahaja, apalagi dalam kondisi sederhana, tentu sudah terlatih dengan kehidupan di pesantren.
Banyak sekali santri yang hidup prihatin di pesantren, sekarang sudah menjadi kiai di desanya. Ada satu kisah yang sangat menginspirasi penulis. Namanya Kiai Musthofa. Dia dilahirkan dari keluarga yang penuh dengan kekurangan. Akan tetapi niat juangnua mencari ilmu sangat besar dan mengobar.

Cukup dengan doa dan rida dari orang tua, dia pun berangkat ke pondok, hanya dengan bekal niat dan tekad. Di pesantren dia kerja seadanya untuk biaya hidup. Juga, di pesantren dia bukanlah santri yang menonjol atau yang masyhur dengan keilmuan seperti teman-temannya yang lain. Bahkan dia sering menjadi bulan-bulanan ledekan atau perundungan dari teman-temannya, bukan karena kepintaranya akan tetapi karena kebodohnnya.
Namun dia tetap bersabar sambil berdoa dalam hati, “Semoga besok ilmuku bermanfaat untuk masyarakat.” Dia hanya mengugemi (patuh) apa yang didawuhkan (dikatakan) gurunya, dan selalu tekun belajar dan mengaji. Padahal, saat itu dia kesulitan membaca dan memahami kitab yang dipelajari.
Singkat cerita, dia menjalani kehidupan sebagai santri di pondok penuh dengan keprihatinan. Dia ikhlas terhadap makanan yang dimakan, pakaian yang dipakai. Sikap qanaah selama di pondok itu pun tetap dibawa ketika sudah pulang dari pesantren. Sikap itu juga dia tularkan kepada anak keturunannya.
Setelah pulang dari pesantren, dia bekerja menjadi tukang kayu, sampai pada suatu hari kiai masjid di desanya meninggal dunia. Masyarakat di desa tersebut bermusyawarah untuk mencari pengganti dari kiai yang meninggal itu. Dan, diputuskan Musthofa si tukang kayu tersebut yang menjadi penggantinya.
