Tapi, ketika dari lubang dinding bambu itu bibir bocah-bocah sudah terlihat membiru, dan blumbang begitu gaduhnya, airnya begitu keruhnya, Mbah Nyai lekas membuka pintu, dan mencari-cari batu atau kerikil atau pecahan genteng di pekarangan depan rumahnya, lalu tanpa ampun melemparkannya ke arah blumbang, selalu dengan teriakan yang sama. Karuan saja bocah-bocah itu lekas mentas dan berlarian mencari tempat berlindung atau bersembunyi di dalam langgar atau tempat mereka mengaji. Dari sana mereka mengintip sosok Mbah Nyai. Ketika sosok Mbah Nyai sudah lenyap di balik pintu, mereka kembali ke blumbang, nyemplung ke dalam air pelan-pelan. Tak lama kemudian mereka akan mentas lagi, mengenakan pakaian lalu masuk langgar. Ada yang menabuh beduk, ada mengumandangkan azan asar.
Begitulah suasana blumbang itu saban siang hari, sampai ketika Mbah Nyai diketahui meninggal dengan damai, sendiri dalam sepi. Hari itu tak ada lemparan batu ke arah blumbang dan teriakan Mbah Nyai hingga anak-anak selesai bluron. Beberapa bocah memberanikan diri mengendap-endap ke rumah sepi itu. Dari lubang kunci pintu, mereka mengintip Mbah Nyai terbujur kaku di ranjang ruang tengah dalam keadaan masih mengenakan mukena. Itu hari terakhir bocah-bocah melihat sosok Mbah Nyai.

Keesokan harinya, sepulang dari sekolah, bocah-bocah itu memang kembali ke blumbang. Namun, hanya sebentar mereka berendam dalam air di blumbang itu. Wajah-wajah mereka tidak terlihat sesumringah seperti hari-hari sebelumnya.
“Ayo main ke tempat lain. Tak seru, ih,” kata salah satu dari mereka.
“Iya…,” sahut yang lain.
Mereka kemudian mentas dan berpakaian, lalu berjalan melintasi halaman langgar ke arah selatan, menyusuri gang sempit yang pendek, lalu muncul di jalan besar, persis di mulut pasar yang selalu ramai. Mereka kemudian berjalan-jalan tak tentu arah mengelilingi los-los pasar. Sesekali mereka melihat poster-poster yang tertempel di tiang-tiang bangunan pasar itu. Ada poster berwarna kuning dengan gambar pohon beringin. Ada juga poster lain berwarna hijau, tapi tak sebanyak yang berwarna kuning, bergambar Kakbah. Di tiang lain juga ada poster berwarna merah. Di sana ada gambar banteng. Dan sejak itu, mereka lebih sering bermain petak umpet di los-los pasar ketimbang bluron di blumbang.
