Blumbang

Dulunya ada bangunan-bangunan lain di sekitarnya, berupa gothakan yang hampir semuanya terbuat dari bambu, entah untuk tiang atau dindingnya. Atapnya dari ijuk, sebelum akhirnya diganti dengan genteng. Bilik-bilik panggung itu ditempati oleh santri-santri yang mondok. Ya, dulunya memang berdiri pondok pesantren di sini. Santrinya datang dari berbagai daerah. Namun, sejak kiainya wafat, pesantren itu surut dan satu demi satu santrinya pergi. Lama kemudian, yang tersisa hanyalah seorang santri yang mengalami gangguan jiwa. Salah satu anak kiai mencoba membangun kembali pesantren itu, namun tak pernah lagi ada santri yang mondok sampai gothakan-gothakan itu roboh dan satu-satunya santri yang tersisa itu dikirim ke rumah sakit jiwa. Yang tersisa dari pesantren itu memang hanya blumbang itu, lalu langgar dan satu bangunan tempat mengaji anak-anak sekitar.

Ada satu rumah tak jauh dari blumbang. Rumah itu persis berada di sisi barat dari blumbang, sekitar lima belas meter, namun dipisahkan oleh tegalan dengan rerimbunan pohon pisang, pohon jambu, beberapa pohon kelapa, pohon lamtoro, dan semak-semak. Hanya ada jalan setapak di sisi utara blumbang yang menghubungkan rumah itu ke arah halaman luas bekas bangunan pondok. Rumah itu ditinggali Mbah Nyai seorang diri setelah suaminya wafat. Usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Tubuhnya kurus dan kulitnya sudah kering keriput, yang selalu dibungkus kebaya berlengan panjang dan kain. Rambutnya disanggul ke belakang. Hanya sesekali ia ditemani oleh cucu yang kadang datang untuk bermalam bersamanya yang hanya satu atau dua malam. Mbah Nyai juga jarang sekali terlihat bepergian, kecuali jika menerima kabar ada anaknya atau cucunya sedang sakit. Yang sering membuat Mbah Nyai membuka pintu rumahnya justru tingkah bocah-bocah di blumbang itu, dan sebentar kemudian ia akan masuk kembali ke rumah sambil membanting pintu setelah suaranya terdengar melengking,

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Mentas setan-setan kecil, berisik!!!”

Yang menjadi daya tarik bocah-bocah betah berada di lingkungan langgar memang blumbang itu. Meskipun airnya kecoklatan, blumbang itu multifungsi. Selain untuk berwudhu, orang-orang sekitar sering memanfaatkan air di blumbang itu untuk mencuci pakaian dan mandi. Anak-anak sekitar, yang saban malam mengaji di langgar samping blumbang, menjadikannya sebagai tempat bermain. Bluron. Siang hari sepulang dari belajar di madrasah ibtidaiyah, biasanya anak-anak berkumpul di blumbang. Jumlahnya kadang sampai belasan. Setelah bugil dan menyampirkan baju-baju di dinding blumbang, di bawah terik matahari, mula-mula mereka hanya berendam, lalu berenang bolak-balik dari sisi timur ke barat. Mereka saling bercakap dan tertawa di antara kecipak air.

Ketika berenang sudah terasa mulai membosankan, selalu ada yang mengawali untuk permainan baru. “Lompat, yuk!” satu dari bocah-bocah itu kemudian mentas, lalu berdiri di pagar blumbang yang terbuat dari beton dengan tinggi lebih dari satu meter. Dengan gerakan akrobatik ia melompat ke udara, salto, dan byurrrrr….  jatuh di air, menyelam, kemudian muncul di sisi yang lain. Kawan-kawannya tertawa dan bersorak. Bocah-bocah itu kemudian saling berebut untuk memulai aksi serupa, byar-byur saling bersicepat untuk melompat ke air dari pagar, sehingga blumbang itu begitu riuh, airnya begitu keruh.

Biasanya keriuhan blumbang itu akan terhenti ketika terdengar desingan batu atau kerikil yang lalu menghantam air diiringi lengkingan suara Mbah Nyai, “Mentas setan-setan kecil!!!” Tapi bocah-bocah itu tak pernah tahu, lama sebelum mengambil apa saja di depan pintunya yang bisa dilemparkan ke arah blumbang, Mbah Nyai duduk menghadap dinding rumahnya yang bolong melompong. Cukup lebar untuk mengamati apa yang terjadi di blumbang itu. Bahkan, terkadang Mbah Nyai sudah duduk di sana sebelum bocah-bocah itu datang. Mbah Nyai hampir tak pernah melewatkan momen bisa mengintip keriangan bocah-bocah bermain air tanpa diketahui oleh mereka. Di sana terkadang ada dua atau tiga cucu lelakinya yang ikut bluron. Sesekali Mbah Nyai terkekeh lirih ketika dari jauh melihat burung cucu-cucunya yang belum disunat kopat-kapit saat hendak melompak ke dalam air. Wajah Mbah Nyai berseri, matanya berkaca-kaca. Kepalanya menggeleng pelan.

Tinggalkan Balasan