Sejatinya buku ini hendak mengajak pembaca agar mengoreksi ritual salatnya. Tidak heran bila, Haidar Bagir memberikan stimulus dengan menghadirkan referensi empiris agar mudah menarik pembaca, lebih eksplisit mengajak salat dengan baik dan benar.
Akan tetapi, di pertengahan buku, secara tidak langsung penulis membandingkan salat orang alim dan orang biasa. Maksudnya, contoh yang dihidangkan oleh penulis seolah disengaja. Pasalnya, panutan cara salat yang harus di-uswah-kan ialah ulama kompatibel; Ibnu ‘Arabi, Jalaluddin Rumi, Ibnu Sina, dan seterusnya. Ulama-ulama tersebut memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan keilmuan Islam.

Buku Buat Apa Salat? ini tampaknya memang sengaja dihadirkan demi mengembalikan kepercayaan manusia modern untuk semakin gigih dalam melaksanakan salat, mengingat salat untuk masa sekarang seolah kehilangan marwah. Bisa jadi salat yang memiliki substansi konkret dengan segala zaman.
Untuk masa sekarang, salat lebih sering terlihat sebagai ritual konyol yang hanya menghambat pemasukan finansial karena dianggap membuang waktu yang esensinya dipergunakan untuk bekerja demi memenuhi hasrat kapitalis.
Manusia hedonis selalu mengedepankan usaha untuk memperbaiki dan menjaga siklus kehidupan manusia. Sehingga time is money menjadi pijakan rasio dalam menjaga stabilitas harga diri di hadapan manusia lain.
