Wanita itu tampak pucat dengan wajah sendu. Pikirannya semrawut terlihat dari gerak-geriknya. Banyak sekali panggilan telepon yang harus dia jawab. Semua jadwal yang ada di dindingnya tampak penuh. Meja kantornya bahkan tak menyisakan lagi tempat untuk sekadar menaruh cangkir kopi.
Dia menyandarkan punggungnya yang keras pada kursi. Sejenak matanya memandang foto kecil yang telah dilaminating dan ditempel di pojok meja. Sejenak memejamkan mata, dan pikirannya melayang entah ke mana.

Masih teringat jelas bagaimana kedatangannya pertama kali di sebuah pesantren. Pesantren kecil itu hanya memiliki tiga bilik kamar untuk para santrinya. Di atas tiga bilik kamar ada sebuah tempat menjemur pakaian. Di sampingnya tampak ada Taman Kanak-kanak sederhana. Beberapa wahana permainan yang tampak bermodel lama berjajar di depannya. Di tengah-tengah halaman yang terhampar luas ada dua pohon nangka dan sawo merimbuninya.
Satu alasan besar kenapa dirinya berada di sana adalah karena wasiat terakhir sang ibu. Sebelum meninggal, sang ibu menyarakan agar putri semata wayangnya diasuhkan di tempat ibunya dibesarkan. Ya, semenjak kelas tiga Madrasah Ibtidaiyah, ibunya memang telah mengampu ilmu di sana. Keterbatasan finansial yang memaksa orang tua sang ibunda menempatkan anaknya di sana.
Ada perasaan aneh saat dirinya menginjak tanah di tengah lapangan pesantren itu. Sang perempuan yang baru menginjak belasan tahun itu seakan bisa membayangkan. Segala napak tilas tentang ibundanya seakan terlintas kembali. Terbayang senyum manis ibunya saat masih muda.
“Zhera, ayo!”
Seruan ayahnya membuyarkan imajinasi sekilas itu. Saat bertemu dengan pengampu pondok, ada raut muka tak yakin di wajah ayahnya. Namun saat ditanya kembali, sang putri semata wayang hanya mengangguk.
Sebelum pulang dan berpamitan, ayahnya sempat membisikkan sesuatu. Zhera sempat kaget mendengarnya, namun dalam hati kecilnya dia yakin bisa melaluinya.
Zhera tak lagi memikirkan semua hal itu. Kehidupannya melangkah pada jenjang yang lebih baru. Saat pertama kali berada di sana, orang yang pertama kali menyapanya adalah Rima. Dilihat dari perawakannya, tampak umur mereka tak jauh berbeda. Rima yang pertama kali menemaninya mengelilingi pondok.
Keesokan harinya ngaji pertama Zhera dimulai. Baginya ini pengalaman yang sangat baru. Dia dulu hanya belajar dasar membaca Al-Quran. Terlebih beberapa jadwal ngaji menerapkan sistem arab pegon sebagai bahasa penulisan.
Beberapa santri yang telah lama di sana kadang ada yang meledeknya. Namun ketika sowan pada Bu Nyai, dia malah mendapatkan jawaban yang berbeda.
“Malu itu adalah kesalahan terbesar jika ingin belajar. Bahkan Rasulullah saja harus diajari Jibril dulu baru bisa baca tulis,” kata Bu Nyai sambil tersenyum manis.
Pada akhirnya hanya Rima yang mau mengajari Zhera berbagai hal tentang pelajaran pondok. Dia serasa memiliki saudara baru yang tak pernah dia miliki selama ini. Baginya, Rima bisa menjadi kakak sekaligus temannya. Bahkan hingga saat ini pengalaman itu masih terkenang. Sayang, sejak Zhera keluar dari pondok, mereka tak lagi bisa menyambung kabar.
Dia tak bisa lagi mencari keberadaan temannya itu. Karena, selain Rima tak punya akun sosial media, Zhera juga belum sekalipun kembali menyambangi pesantrennya itu.
Cessss…
Tiba-tiba ada rasa dingin yang menyambangi keningnya. Zhera yang asik terlelap menjingkat seketika. Semua mata yang ada di kantor lekas melirik asal suara. Ternyata Doni yang sengaja menaruh sebuah minuman dingin di keningnya.
“Ih, apaan sih, Don. Kaget tau,” kening Zhera mengkerut.
“Ha-ha-ha, sorry-sorry. Lagian, istirahat di bilik sana, gih. Istirahat kok di depan komputer.”
“Kayaknya lo butuh cuti deh,” sekaleng minuman bersoda melayang ke arah Zhera dan ditangkapnya dengan baik.
