BUJUK LANCENG
Dari angkara murka meniti ke kelopak mata
Bayang-bayang berjalan dengan kaki sebelah
Pada tikungan begitu tajam menuju utara
Dari bawah samudera, ke langit Mahabarata

Risau masih menyisakan kisah pada paruh Burung Gagak
Ketika melihat wajah matahari sudi tenggelam dari singgasana paling tinggi
Maka laknat yang mana lagi mesti kau tuju
Semenjak simfoni ludruk kian memilin tanju
Kini deru jalanan mulai lengang tanpa salam
Berkat serpihan huruf yang muntah di bibirnya
Di setiap persimpangan waktu
Yang selalu menjejakkan telapak rindu.
Pamekasan, 01/04.
SORE INI, HUJAN DATANG BERKALI-KALI
Yang engkau lontarkan sebelum hujan
Untuk merayakan dahaga dedaunan
Agar mengalir ke hilir jalan
Dingin mencoba meraba
Antara degup takbir sebelum mualik
Yang mulai ramai dari tabuhan rintik-rintik
Adalah janjimu kian menukik
Barangkali tempias di matamu
Sudi merajut senja yang sudah kelabu
Dari percakapan sore yang panjang
Sehingga kita sama-sama hilang di peluk pandang.
