BUJUK LANCENG

Niscaya dingin bersetia memuja sedih
Setelah tatapan menggenang di hulu letih
Sampai waktu mengajakku pulang
Sebelum kemarau benar-benar disaput petang.

Pamekasan, 01/04.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

SABDA DARAH

Ini sudah kali ke berapa
Kekejaman suara ditafsir dari luka-luka mimpi
Memangsa jiwa, bertebaran antara lelah misteri
Yang dicatat pada ke dalaman imaji

Sebenarnya luka darah ini tak cukup menjadi saksi
Sebelum kekejaman mulai durja ke setiap diksi
Tanpa ada kepongahan merengkuh palung
Mereka-reka pulang meniti sekat payung

Apakah engkau mengharapkan sabda
Sementara goresan hati yang lain belum sepenuhnya menyiksa
Di antara derik dan detak di setiap detik
Bermula sebagai pandang melengking pekik

Marilah bertapa pada daun-daun sebelum ranggas
Agar kita saling menyapa angin selagi bernapas
Sampai tetes yang seharusnya menetas
Mengalir sebagai risalah pengharapan paling lugas.

Pamekasan, 01/04.

Tinggalkan Balasan