Bukan Arab, Tapi Islam: Gagasan Kiai Cepu Soal Sastra dan Lembaga Keagamaan

Menurutnya, meskipun saat ini telah ada upaya membuka ruang melalui berbagai lembaga dan program, menurutnya seni masih belum dianggap sebagai aspek utama yang perlu didorong secara serius dalam pembangunan kebudayaan nasional.

“Saya sangat menolak beberapa sastrawan dimasukkan begitu saja ke dalam kategori sastra Islam. Itu justru mempersempit makna sastra Islam seolah-olah hanya bercerita tentang agama. Misalnya, kisah Masyitoh menurut saya bukanlah sastra Islam, baik secara esensial maupun simbolis,” ucap Kiai Cepu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di akhir pemaparannya, beliau menegaskan bahwa seni harus tetap hidup dan berkembang meskipun menghadapi keterbatasan dalam hal pendanaan. Baginya, kekuatan seni bukan semata-mata ditentukan oleh ketersediaan dana, melainkan oleh semangat, dedikasi, dan tekad para seniman untuk terus berkarya.

Ia juga menyoroti pentingnya komitmen dan kecintaan terhadap seni sebagai landasan utama lahirnya karya-karya yang bernilai. Seni, menurutnya, adalah ekspresi jiwa yang harus tetap menyala meski berada dalam situasi yang penuh tantangan.

Diskusi dilanjut oleh narasumber kedua, Bambang Prihadi, yang menyampaikan pandangannya mengenai hubungan antara lembaga keislaman dan perkembangan seni. Dalam penyampaiannya, Bambang menekankan bahwa kesenian seharusnya dipahami sebagai ruang ekspresi yang tidak selalu perlu dilembagakan secara formal oleh institusi keislaman.

Ia mengajak audiens untuk membuka perspektif yang lebih luas dalam memandang keterkaitan antara seni, budaya, dan nilai-nilai keislaman. Menurutnya, pendekatan simbolik semata seperti identitas visual atau label “islami” tidak cukup untuk merepresentasikan kedalaman nilai keislaman dalam karya seni. Ia menegaskan bahwa kreativitas dalam seni harus diberi ruang bebas tanpa dibatasi oleh formalisasi atau pemaknaan yang sempit.

Tinggalkan Balasan