Yang membuat saya kagum, Ragil tidak pernah mengeluh. Tidak sekalipun saya melihatnya menunjukkan raut lelah atau jenuh. Ia menjalaninya dengan ketulusan yang nyaris mustahil saya jelaskan. Seolah seluruh waktunya memang telah ia niatkan hanya untuk mengabdi.
Tugas ini dijalaninya bukan sehari-dua hari, tapi lebih dari satu tahun penuh. Ia melewati hari demi hari dalam ruang khidmah, menjadi saksi jatuh bangunnya kondisi Pak Kiai, menjadi santri yang paling dekat secara lahir dan batin. Hingga akhirnya, hari yang tak pernah kami inginkan itu tiba: Pak Kiai wafat.

Saat banyak dari kami menangis dalam kehilangan, Ragil adalah salah satu yang paling terpukul. Tapi justru dari situlah babak baru kehidupannya dimulai—dan inilah bagian paling menakjubkan dari kisah ini.
Tak lama setelah wafatnya Pak Kiai, Ragil mendapat tawaran untuk mengajar anak seorang pejabat yang mempercayakan pendidikan anaknya kepada Ragil. Tidak ada proses yang rumit. Seolah orang tua anak itu langsung merasa cocok dan percaya penuh kepadanya. Mungkin ini yang dinamakan karamah khidmah, berkah dari melayani orang alim.

Masyaallah