Tapi tidak berhenti di situ. Sebagai bentuk terima kasih, orang tua murid tersebut lalu memberikan kesempatan kuliah gratis kepada Ragil, bahkan memberikan uang saku setiap bulan. Yang lebih mencengangkan, biaya kuliah Ragil sebenarnya telah ditanggung oleh beasiswa. Namun, dana itu tetap diberikan kepadanya oleh pihak keluarga sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan amanah yang ia jaga.
Saya menyaksikan semua itu dengan mata kepala saya sendiri. Ini bukan cerita karangan atau kisah motivasi fiktif. Ini nyata. Dan sejak itu, saya benar-benar yakin, bahwa berkah dari guru itu nyata. Bahwa khidmah bukan jalan tertinggal, tapi jalan tersembunyi yang Allah rahasiakan sebagai gerbang menuju kemuliaan.

Dari Ragil saya belajar bahwa melayani guru bukan pekerjaan kecil. Ia bukan sekadar menyiapkan air wudhu atau membantu membawa kitab. Ia adalah bentuk cinta paling tinggi dari seorang santri kepada sang pewaris ilmu Nabi.
Kini Ragil sedang menjalani masa kuliahnya dengan tenang dan berkecukupan. Tapi lebih dari itu, saya yakin hatinya tetap membawa semangat khidmah, semangat yang lahir dari pondok, dari peluh, dari tangis dalam sujud panjangnya, dan dari restu seorang kiai yang ia rawat dengan sepenuh jiwa.

Masyaallah