Debur ombak yang mengguntur itu
adalah rinduku
rindu gaung
pada gunung
ELEGI TEMPO HARI

“Aku masih bocah, Bapak, kenapa kau mengayun kapak?”
Pada sebatang pohon seekor burung gagak nangkring, menginding. Bertengger dalam diam, matanya angker menggodam. Angin berhenti berdesir, ranting-ranting berhenti berdzikir. Selembar daun gugur, barangkali karena uzur.
“Sebab jika besar nanti, Anak, kau yang akan mengayun kapak.”
Seekor celurut mendelik di sebalik belik, mengindik. Kukunya tajam mencengkeram. Matanya garang menerawang bayang pada celah lalang yang berhenti bergoyang. Di belik, air telah berhenti menitik.
“Aku masih bocah, Bapak, hanya tahu pada yang nampak.”
“Kau memang masih bocah. Pergilah sebelum hatimu goyah.”
“Kenapa, Bapak?”
