Bulan Hormat Santri pada Guru

Guru yang “galak” dan tiap hari memberi “PR” mungkin di satu era dianggap ideal, tapi hari ini bisa jadi yang didambakan setiap murid adalah guru yang friendly dan bisa menjadi “bestie”, atau tidak apa-apa kalau dipanggil “bro”, misalnya. Bahkan, dengan perkembangan teknologi digital yang demikian canggih, tidak tertutup kemungkinan sosok guru ideal bisa “di-custom” sesuai keinginan murid, termasuk model pembelajarannya. Siapa tahu.

Karena itu, kita memerlukan informasi yang konprehensif dari kacamata generasi milenial, guru ideal yang mereka dambakan itu seperti apa sosoknya. Dengan tema ini, kita bisa mengecek ulang apakah khazanah kita tentang sosok guru ideal dan model pembelajaran yang baik di masa lalu masih relevan atau memerlukan penyesuaian. Dengan menulis tema ini, para santri penulis di duniasantri sedikit banyak akan berkontribusi pada masa depan pendidikan bangsa ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sementara itu, jika tema pertama berupa tulisan opini murni dan akan dimuat di rubrik Opini, maka tema kedua akan berupa karya jurnalistik dan akan dimuat di rubrik Sosok. Sebab, ia memuat profil guru yang pernah mendidik kita, kaum santri.

Setiap penulis bisa memilih salah satu guru, gurunya sendiri, bukan gurunya orang lain, untuk diprofilkan. Bisa jadi mereka adalah guru ngaji kita di langgar saat belajar mengeja alif-ba-ta, guru-guru kita di sekolah atau di pesantren, atau dosen-dosen kita di perguruan tinggi atau mahad aly, atau bahkan guru dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan