Bumerang di Tubuh NU

Padahal, Imam Tajudin As-Subki rahimahaullah mengatakan, “Memperbincangkan para imam agama, dan saling membandingkan di antara mereka yang belum sampai pada tingkatannya, itu hal yang tidak bagus. Dikhawatirkan akibat buruknya di dunia dan akhirat. Sedikit sekali orang yang terjerumus dalam hal ini dapat selamat. Terkadang hal ini merupakan sebagai sebab terjerumus kepada ulama yang dapat menghancurkan tempat.” (Al-Asybah Wan Nazoir, 2/328).

Gerakan NUGL masih terus ada dan berkembang hingga kini. Penulis sendiri mengakui sepak terjang NUGL tidak sepenuhnya salah, bahwa ada hal yang perlu dibenahi di tubuh NU (misalnya, mengungkapkan statemen kontroversial). Akan tetapi, keberadaan NUGL nyata menjadi bumerang di tubuh NU sendiri. Banyak ulama’ yang dikritisi, bahkan kiai khos sekelas Gus Baha pun tak luput dari kritikannya. Padahal, jika memang bermaksud mengingatkan seharusnya tabayun, atau berdiskusi secara langsung pada yang bersangkutan agar tidak timbul fitnah di antara umat. Meminjam dawuh Imam As Subki tersebut, berhentilah memperbincangkan para imam agama karena dikhawatirkan akan ada keburukan bagi orang yang nyinyir itu, baik itu keburukan di dunia maupun di akhirat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Akhir kata, selamat harlah yang ke-95 NU-ku. Semoga NU semakin bisa merangkul semua golongan (baik di tubuh NU sendiri ataupun di luar NU) dan ke depan semakin gemilang dalam menyebarkan kebaikan. Wallahu a’lam.

One Reply to “Bumerang di Tubuh NU”

Tinggalkan Balasan