Telah sembilan puluh lima tahun umur Nahdlatul Ulama(NU) di tahun ini. Usia yang cukup matang untuk sebuah organisasi. Dalam kurun hampir satu abad itu banyak berseliweran dinamika-dinamika yang menghiasi perkembangan NU. Gerakannya yang moderat namun lugas acapkali berseberangan dengan ormas (organisasi massa) lain. Jalan tengah yang diambil dalam mengawal perjalanan Islam justru sering membuat ormas yang tak sepemikiran mendeskriditkannya.
Namun demikian, perjalanan waktu telah menyaksikan kedigdayaan NU dalam melawan kebatilan. PKI, misalnya. Ideologi keliru yang diusungnya pernah hampir menenggelamkan Indonesia dalam kegelapan zaman. Namun, dengan seizin Allah, organisasi itu pun akhirnya tumbang. Belakangan, gerakan Wahabi dan ormas yang berafiliasi atau sejalan dalam pemikiran dengannya pun juga menyusul tumbang. Pun demikian, bukan berarti perjuangan ormas yang didirikan oleh Hadrotus Syaikh Hasyim Asyari ini telah usai.

Sebagai ormas terbesar di Indonesia yang berorientasi pada keumatan dan mengawal perjalanan kemanusiaan, batu sandungan hampir selalu ada di setiap langkah. Wasatiyah atau jalan tengah yang dipegangi dalam berdakwah tak jarang dianggap liberal oleh kaum radikal. Pun, arus pemikiran itu telah, disadari atau tidak, mulai melakukan infiltrasi dalam sebagian tubuh NU (nahdliyin) sendiri. Arus pemikiran yang bersumber dari luar NU akan mudah ditenggarai dan kemudian dilawan. Namun bagaimana jika arus itu tumbuh dalam tubuh NU (nahdliyin) sendiri?

NUGL…saya tak ikut NUGL juga, sam..
*NU Garis Lucu