Di Cirebon dan Buntet ada Mbah Muqoyim dan sebagian besar keluarga Sunan Gunung Jati lebih memilih hidup bersama masyarakat dengan membangun tajug (musala) dan menyayangi fakir miskin. Karena Sunan Gunung Jati dalam wasiatnya tidak menitipkan kerajaannya, akan tetapi menitipkan tajug dan fakir miskin. Beliau berkata, “Isun titip tajug lan fakir miskin”.
Jadi apa yang dilakukan Joko Tingkir, Gus Dur, Kiai Nur Iman, Mbah Muqoyim dan keturunan Gunung Jati adalah bunuh diri kelas ala sufi Malamatiyah.

Kedua, bunuh diri kelas berupa memerangi hidup hedonistik, lebih memilih hidup sederhana, berorientasi pada kemaslahatan bagi masyarakat, menjauhkan diri dari kepentingan pribadi, dan terus melatih diri bahwa jabatan dan harta untuk mendekatkan diri pada Allah dengan menggunakannya sebaik mungkin untuk kemakmuran dan kemajuan rakyatnya.
Cara kedua itu ialah cara sufi Malamatiyah yang berada dalam kekuasaan. Dicontohkan, Sahabat Abu Bakar Siddiq yang selalu jujur dan amanah ketika memimpin, terbuka menerima kritik dan saran, orientasi pada kemanusiaan dan kemaslahatan bagi warganya. Beliau berkata, “Tempat tinggal kami adalah fana. Fasilitas dan kehidupan kami adalah titipan.”
Umar bin al-Khtatthab yang memilih hidup sederhana, tidur berbantal pelepah kurma yang keras dan kasar meski kekuasaannya disegani oleh dunia pada saat itu. Tidak menggunakan fasilitas kekuasaannya.
Sahabat Usman bin Affan terkenal ahli sedekah dan dermawan. Semasa memimpin ia sering kali menyamar layaknya masyarakat biasa, hidup membaur bersama warga, dan bahkan bermain bersama anak-anak kecil.
Dikisahkan satu hari Sahabat Utsman sedang berada di kebun kurma. Beliau membawa seikat kayu bakar bersama empat ratus anak muda dan pembantunya.
Lalu ada yang bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang sedang engkau lakukan?”
