Fotokopian itu benar-benar hanya saya baca sendiri, dan kemudian saya simpan rapi, hingga kini. Tentu karena saya tak berani berurusan dengan bui. Kini, Anda bisa memperolehnya dan membacanya di mana saja dan kapan saja, tanpa takut diperiksa, tanpa takut dikuntit agen-agen spionase. Tentu karena kita sudah hidup di era yang berbeda.
***

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu adalah rekaman ironi dan tragedi kemanusiaan, lebih-lebih jika kita sandingkan dengan buku serupa, Gulag karya Aleksandr I Solzhenitsyn.
Pram memang tokoh Lekra yang terafiliasi dengan PKI. Posisinya itulah yang membuatnya diasingkan di Nusa Kambangan pasca-untran-untran 1965. Tanpa pernah diadili di depan majlis hakim, Pram kemudian diangkut kapal untuk diisolasi di Pulau Buru, pulau pembuangan itu. Di kapal itu, atau di Pulau Buru, mungkin sudah ada Diro dan puluhan ribu orang lainnya —sumber lain menyebut ratusan ribu. Mereka adalah orang-orang buangan.
Geger 1965 memang menandai pergantian rezim. Pusat kuasa berpindah dari Sukarno ke Suharto. Bandul ideologi digeser dari kiri ke arah kanan. Dan dimulailah episode balas dendam itu. Pembantaian yang satu dibalas dengan pembantaian lainnya. Pembunuhan yang satu dibalas dengan pembunuhan lainnya. Persekusi yang satu dibalas dengan persekusi lainnya. Rezim yang baru melakukan apa yang dilakukan orang-orang sebelumnya.
Sebagian kecil sisanya adalah orang-orang buangan itu, yang sebagian kisahnya terekam dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu itu.
Mereka menjadi orang-orang buangan tanpa proses peradilan. Karena tanpa melalui proses peradilan, maka tak ada bedanya apakah mereka itu benar-benar dedengkot atau anggota PKI, atau simpatisan, atau tak ada hubungannya sama sekali. Begitu sebuah nama tercatat atau tersebut, ia harus di-Buru-kan. Lalu semuanya di-dehumanisasi; begitulah yang terbaca dari Nyanyi Sunyi Seorang Bisu itu.
