Mereka dibuang di pulau antah berantah itu untuk menjalani kerja paksa dengan segala siksaannya. Ada yang mati karena tak tahan melawan ganasnya alam. Ada yang mati karena intimidasi dan poporan senjata. Ada yang mati dibedil begitu saja. Ada yang menyebut jumlahnya 310. Ada yang mengira lebih. Yang tersisa adalah orang-orang seperti Diro —orang buangan di negeri sendiri.
***

Jika di Nusantara ada Buru, di Rusia (dulu Uni Soviet) ada Gulag. Apa yang terjadi di Gulag terekam dalam buku yang ditulis Aleksandr I Solzhenitsyn, The Gulag Archipelago.
Episode paling gelap di Rusia ini bermula dari Revolusi Oktober 1917 atau Revolusi Bolshevik. Dipimpin Vladimir Ilyich Ulyanov atau Lenin, Revolusi Bolshevik berhasil menumbangkan rezim Karensky, dan bandul ideologi politik pun digeret ke arah kiri. Di bawah naungan ideologi komunis, Rusia, yang kemudian menjadi Uni Soviet, diperintah dengan tangan besi. Untuk menyokong kekuasaan sang rezim maka dibangunlah Gulag, satu sistem pemenjaraan paling sadis sepanjang sejarah manusia di Siberia.
Solzhenitsyn menuliskan pengalamannya berada di Gulag antara 1958 hingga 1968, dan untuk kali pertama Gulag terbit pada 1973. Jika Buru adalah tempat pembuangan orang-orang yang dituduh komunis, maka Gulag sebaliknya. Gulag adalah tempat pembuangan dan penyiksaan orang-orang yang dianggap menentang pemerintahan komunis. Setiap nama yang tercatat, atau dibisikkan seseorang, maka akan langsung dikirim ke kamp-kamp di Gulag.
Konon, sedikitnya ada 20 juta tahanan politik (plus penjahat sungguhan) yang pernah dijebloskan ke kamp-kamp dan penjara-penjara di Gulag untuk menjalani kerja paksa. Jumlah orang mati di Gulag diperkirakan 1,7 juta orang atau lebih. Ada yang mati karena kelaparan, kelelahan, sakit, tidak tahan menahan siksaan, atau tertembus timah panas yang bersarang di kepala. Seperti halnya di Buru, Solzhenitsyn menyebut apa yang terjadi di Gulag adalah dehumanisasi.
Dari Buru dan Gulag kita tahu bahwa brutalisme bisa datang dari mana saja, oleh siapa saja, tak peduli apa ideologinya, tak peduli apa agamanya. Dendam dan balas dendam adalah tempat persemaiannya.
