“Aduh, Nak,” ibu menghampiri sembari menggosok-gosok kepalaku. “Kamu tahu gaji bapakmu ini berapa?”
Aku menggeleng.

“Untuk menyekolahkan kamu saja, bapak-ibu harus mondar-mandir cari pinjaman, apalagi harus masuk kebun binatang. Tiket kebun binatang itu mahal, bapakmu tak punya uang. Sudahlah, berhenti menangis dan jangan minta yang aneh-aneh lagi.”
Aku diam. Mungkin benar kata ibu, bapak tak punya uang. Ia hanya buruh pabrik dengan gaji tak seberapa. Tapi entah mengapa bapak memegang pundakku, ia memandangku dengan mata seteduh pepohonan. Ia bilang, tenang saja. Sepertinya bapak menimbang-nimbang permintaanku itu.
Kurasa, dari sanalah seekor burung camar mulai hinggap di genteng rumahku. Burung itu enggan terbang, ia bersemayam di sana, dan sepasang matanya tak mau lepas dari daratan. Ia mengamati kami. Kuajak teman-teman ke pekarangan rumah, kutunjukkan mereka pada burung tersebut, dan teman-teman yang sudah pernah singgah di kebun binatang, membenarkan bahwa burung itu adalah burung camar. Maka bergegas kuambil buku dan pensil, kucatat penafsiranku perihal burung camar.
Dengan begitu, tugas sekolahku telah rampung. Kukumpulkan tugas ini dengan menarik sebelah ujung bibirku. Tapi kata Bu Guru, jawabanku salah. Aku kaget, mulutku menganga dan urat-urat leherku menegang. Bu Guru bilang, burung camar adalah burung pengembara, bukan burung pengamat seperti yang telah kutulis dalam buku. Aku bingung, jawaban siapa yang benar, aku atau guruku?
Padahal burung itu benar-benar burung pengamat. Buktinya, burung itu enggan terbang menjauhi genteng rumahku. Ia bertengger di sana, menatapku, menatap bapak, melirik ibuku. Tapi sudahlah, lebih baik aku mengalah, tak baik berdebat dengan guru sendiri.
Dan kendati tugas sekolahku telah rampung —Bu Guru tak lagi mempertanyakan soal burung camar— namun aku masih menyimpan penasaran pada burung itu. Burung itu bukan hanya burung pengamat, melainkan juga burung pembawa petaka. Terbukti, baru beberapa minggu ia hinggap di genteng rumah, kulihat bapak pulang dengan babak belur.
Kepulangan bapak dengan luka memar, membuat ibu marah padaku. Padahal aku tak mengapa-apai bapak, dan kuduga, burung itu pelakunya. Tapi ibu bilang, akulah yang salah, sebab kenakalan dan permintaan anehku yang membuat bapak babak belur. Kuingat-ingat lagi, aku hanya meminta satu permintaan, yaitu liburan ke kebun binatang.
