Tak sampai di situ, kian hari keadaan bapak semakin parah. Tiap pulang kerja, bisa dipastikan ada luka baru yang muncul di muka bapak. Lama-lama nyaris muka bapak tak dapat kukenali lagi.
Hari-hari itu menjadi hari sibuk bagi bapak. Teman-teman buruh bapak kerap memenuhi ruang tamu. Mereka bercakap-cakap dengan nada penuh gejolak. Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Yang kumengerti hanya satu kata: “Gaji.”

Hingga datang waktu di mana burung camar mulai terbang, mengitari tubuh bapak, dan hinggap di pundaknya. Kuingat waktu itu, tepat saat bapak hendak berangkat kerja. Burung itu begitu luluh di pundak bapak; si burung camar menemani perjalanan bapak ke pabrik. Dan pada hari itu pula, adalah hari terakhirku melihat bapak. Bapak tak kembali, dan mungkin takkan pernah kembali.
Seminggu setelah itu, hal serupa juga menimpa ibu. Burung camar itu datang lagi, hinggap di pundak ibu, dan ibu pun lenyap dari muka bumi. Aku hanya dapat menangis sampai paman datang menjemput. Aku dibawa paman dan semenjak itu pula aku tinggal bersama paman.
Paman tak pernah mau membuka mulut, ke mana bapak dan ibu pergi, sehingga aku pun mengambil kesimpulan sendiri. Saat ditanya teman-teman perihal keberadaan bapak dan ibu, maka kujawab, “Bapak dan ibu diculik oleh burung camar.”
Mereka tertawa. Mereka tak percaya dengan jawabanku. Katanya, mana mungkin burung sekecil itu dapat mengangkat tubuh bapak dan ibuku. Kujawab lagi, mungkin burung camar dapat menjelma menjadi burung raksasa. Mereka tertawa lagi, menganggap semua adalah lelucon belaka. Mereka menyebutku gila, dan kata gila memancing orang gila untuk mendekat.
Teman-temanku lari kocar-kacir saat orang gila itu datang. Sementara aku mematung, kakiku serupa paku dipalu ke dalam tanah. Aku nyaris menjerit dan menangis, bahkan aku sudah kencing di celana. Orang gila itu mendekat semakin dekat, menatapku dengan tajam. Mata kami bersitatap, di mata orang gila itu kutemukan sebuah ketulusan.
Orang gila itu bilang, “Negeri ini dikuasai oleh kaum berduit dan tak ada jalan untuk menentang!” kata si gila. Ia memang gila. Dari semua perkataannya, tak ada satu pun kata yang dapat kumengerti. Entah, mungkin karena itu bahasa orang gila atau jangan-jangan sebab aku tak tahu cara bercakap dengan orang gila. Sudahlah, aku tak peduli. Sampai detik ini, aku masih memiliki kesimpulan; ibu dan bapak diculik oleh burung camar.
